Ketidakpastian global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah dinilai terus menekan perekonomian dunia, mulai dari lonjakan harga energi, kenaikan inflasi, hingga gangguan rantai pasok. Namun, pemerintah menilai ekonomi Indonesia tetap menunjukkan ketahanan dan mampu menjaga stabilitas di tengah situasi tersebut.
Dalam sejumlah indikator, fondasi ekonomi nasional disebut cukup kuat meredam dampak eksternal. Pertumbuhan ekonomi masih ditopang konsumsi domestik, kinerja ekspor komoditas, serta penguatan industri berbasis sumber daya alam, yang dinilai membuat struktur ekonomi lebih adaptif menghadapi dinamika global.
Sektor pertambangan menjadi salah satu penopang yang disorot. Di tengah fluktuasi harga komoditas, PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mencatat laba bersih Rp6,61 triliun hingga kuartal III 2025, naik 197 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan perusahaan mencapai Rp72,03 triliun atau tumbuh 66,7 persen secara tahunan.
Pengamat dari Gagas Nusantara, Romadhon Jasn, menilai capaian tersebut terkait dengan tingginya kepercayaan investor terhadap prospek industri tambang nasional. Menurutnya, kepercayaan publik terhadap nilai investasi memiliki nilai strategis untuk mendorong pergerakan ekonomi berbasis kerakyatan menuju kemandirian, karena dapat membuat roda ekonomi bergerak lebih dinamis dan berkelanjutan.
Pemerintah juga menilai kebijakan hilirisasi mulai menunjukkan hasil. Komoditas yang sebelumnya diekspor dalam bentuk mentah kini diolah di dalam negeri sehingga menghasilkan nilai tambah lebih tinggi. Proyek hilirisasi, khususnya nikel di sejumlah wilayah seperti Maluku Utara, disebut berkembang menjadi ekosistem industri yang berkontribusi terhadap perekonomian.
Romadhon menyatakan hilirisasi tidak hanya dipandang sebagai strategi bisnis, melainkan komitmen jangka panjang untuk menjaga keberlanjutan pengelolaan sumber daya alam. Ia juga menilai langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kedaulatan ekonomi dalam mengelola kekayaan alam secara optimal dan berdaya saing global.
Dari sisi sektor keuangan, ketahanan ekonomi juga disebut tercermin pada industri perbankan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan fundamental perbankan nasional masih sehat meski terdapat revisi outlook negatif dari lembaga pemeringkat internasional.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menjelaskan perubahan outlook tersebut dipengaruhi dinamika global serta penyesuaian terhadap peringkat kredit sovereign Indonesia, bukan karena melemahnya kinerja perbankan domestik. Ia menyebut kondisi industri perbankan tetap positif dengan pertumbuhan stabil.
OJK mencatat pertumbuhan kredit pada Januari 2026 sebesar 9,96 persen secara tahunan, seiring Dana Pihak Ketiga yang tumbuh 13,48 persen. Dari sisi risiko, rasio kredit bermasalah tercatat 2,14 persen, sementara permodalan berada pada level kuat dengan rasio kecukupan modal 25,87 persen. Dian juga menyatakan likuiditas perbankan sangat memadai, memberi ruang bagi perbankan untuk melakukan ekspansi kredit sambil menjaga stabilitas di tengah potensi risiko global.
Optimisme pemerintah juga tercermin dari proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026. Pemerintah memperkirakan ekonomi tumbuh pada kisaran 5,5 persen hingga 5,7 persen meski tekanan global masih berlangsung.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan pertumbuhan berpotensi mencapai 5,6 hingga 5,7 persen, didorong meningkatnya konsumsi masyarakat pada momentum Ramadan dan Idulfitri. Ia menilai capaian tersebut tergolong baik di tengah ketidakpastian global.
Purbaya juga mengatakan tekanan global sejauh ini masih dapat diredam melalui berbagai kebijakan, termasuk menjaga stabilitas subsidi energi agar masyarakat tetap dapat beraktivitas tanpa terbebani lonjakan harga energi global.
Senada, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 berada di kisaran 5,5 persen, dengan aktivitas ekonomi selama Ramadan sebagai faktor pendorong. Ia menambahkan potensi peningkatan inflasi masih dalam batas terkendali dan secara statistik dipengaruhi normalisasi tarif listrik setelah sebelumnya ada kebijakan diskon yang menekan inflasi pada periode yang sama tahun lalu.
Dengan kombinasi kebijakan fiskal yang adaptif, stabilitas sektor keuangan, serta kuatnya konsumsi domestik, pemerintah menilai Indonesia mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah gejolak global. Ketahanan tersebut disebut tidak hanya mencerminkan kekuatan jangka pendek, tetapi juga menunjukkan arah transformasi ekonomi yang semakin matang.

