Otoritas industri tengah mengkaji sejumlah opsi untuk mengurangi ketergantungan pada nafta di industri petrokimia, termasuk memanfaatkan bahan baku lain yang tersedia di dalam negeri. Salah satu peluang yang dibahas adalah penggunaan crude palm oil (CPO) sebagai alternatif, meski kajian tersebut disebut masih berjalan.
Selain CPO, opsi lain yang dipertimbangkan adalah pemanfaatan gas. Menurut Faisol, gas dan LPG juga dapat menjadi bahan baku untuk memproduksi olefin, yang kemudian digunakan untuk menghasilkan polietilena dan polipropilena.
Di tengah proses kajian itu, pemerintah disebut terus berkoordinasi dengan industri dan meminta pelaku industri hilir plastik, termasuk sektor kemasan, untuk tetap menjaga harga. Pada saat yang sama, pasokan nafta saat ini dinilai masih mencukupi dan terus dipantau.
Namun, Faisol mengisyaratkan bahwa pengendalian pasokan bahan baku perlu disertai keputusan pemerintah terkait kebijakan ekspor dan impor. Ia menyebut ketersediaan bahan baku masih dalam pemantauan dan belum terlihat terganggu secara signifikan, tetapi diperlukan keputusan besar mengenai ekspor maupun impor.
Sebelumnya, industri makanan dan minuman mulai merasakan dampak dari kelangkaan nafta, yang memicu kenaikan harga kemasan hingga sekitar 60%. Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman mengatakan kenaikan itu dipicu oleh produsen bahan baku atau industri hulu plastik yang mayoritas berasal dari Timur Tengah yang mulai mengurangi produksi serta mengalami hambatan pengiriman.
Adhi menyebut penurunan produksi terjadi pada sejumlah bahan baku seperti polietilena (PE), polipropilena (PP), hingga linear low-density polyethylene (LLDPE), dengan pengurangan produksi yang disebut mencapai 30% dari produksi normal harian. Kondisi ini dinilai berdampak pada ketersediaan kemasan plastik dan mendorong kenaikan harga, terutama di pasar ritel untuk produk kemasan siap jual yang kenaikannya bisa mencapai 50–60%.
Ia juga menyoroti persoalan ketersediaan, karena beberapa produsen disebut telah menyatakan tidak mampu memasok akibat keterbatasan bahan baku plastik.