Pemerintah terus memantau dinamika global yang ditandai meningkatnya ketegangan geopolitik dan volatilitas pasar keuangan dunia. Di tengah kondisi tersebut, Pemerintah menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan resilien, didukung koordinasi kebijakan yang solid serta daya tahan ekonomi domestik yang terjaga.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, mengatakan Pemerintah menghormati berbagai pandangan masyarakat sebagai masukan dalam perumusan kebijakan. Ia menambahkan, kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini berada dalam posisi yang mampu menghadapi tekanan global.
Menurut Haryo, stabilitas makroekonomi Indonesia masih terjaga. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 tercatat 5,11% secara tahunan (year on year/yoy), yang dinilai relatif tinggi dibandingkan negara selevel, sementara inflasi berada dalam koridor sasaran 2,5±1%. Pemerintah, kata dia, terus menjaga stabilitas tersebut melalui pengendalian inflasi dan kebijakan stabilisasi harga.
Dari sisi permintaan domestik dan sektor riil, konsumsi masyarakat disebut masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi, didukung stimulus fiskal dan program bantuan sosial. Aktivitas manufaktur juga dilaporkan menguat, tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) sebesar 53,8 yang berada pada fase ekspansi dan menjadi yang tertinggi dalam dua tahun terakhir.
Ketahanan fiskal juga dinilai tetap terjaga seiring kinerja APBN yang disebut solid. Hingga Februari 2026, penerimaan pajak tumbuh 30,4% (yoy), yang didukung reformasi perpajakan dan implementasi digitalisasi melalui sistem coretax untuk memperkuat basis penerimaan negara serta meningkatkan kepatuhan wajib pajak.
Selain itu, Pemerintah menyebut ketahanan pangan dan energi nasional semakin menguat. Indonesia diklaim telah mencapai swasembada pada sejumlah komoditas pangan utama serta mencatat surplus produksi energi melalui program biodiesel. Kondisi ini dinilai menjadi bantalan menghadapi gejolak global, termasuk dampak konflik geopolitik.
Dalam agenda jangka menengah-panjang, Pemerintah juga mendorong transformasi ekonomi melalui hilirisasi industri, penguatan investasi, dan akselerasi digitalisasi. Pengembangan sektor kendaraan listrik serta energi baru terbarukan disebut menjadi bagian dari strategi untuk menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan.
Ke depan, Pemerintah optimistis perekonomian Indonesia dapat tumbuh sekitar 5,4% pada 2026, dengan stabilitas yang terjaga dan reformasi struktural yang terus berjalan. Pemerintah juga menegaskan akan mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam merespons dinamika global, seraya memastikan daya tahan ekonomi nasional tetap kuat.

