BERITA TERKINI
Pemerhati Nilai Konflik Global Bisa Jadi Momentum Percepat Swasembada Pangan

Pemerhati Nilai Konflik Global Bisa Jadi Momentum Percepat Swasembada Pangan

JAKARTA — Ketegangan di Timur Tengah yang dipicu konflik antara Amerika Serikat dan Iran dinilai belum berdampak langsung terhadap ketahanan pangan Indonesia. Meski begitu, pemerintah disebut tetap perlu mengantisipasi kemungkinan gangguan pasokan global apabila konflik berlangsung berkepanjangan.

Pandangan tersebut disampaikan Ketua Dewan Pakar DPP Pemuda Tani Indonesia, Bayu Dwi Apri Nugroho. Ia menilai situasi geopolitik global justru dapat menjadi momentum untuk mempercepat kemandirian pangan nasional agar Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pangannya tanpa bergantung pada negara lain.

“Kalau konflik ini terus berlanjut, mungkin nanti akan berpengaruh. Tetapi sisi positifnya, Indonesia didorong untuk lebih cepat mencapai swasembada pangan,” kata Bayu, Jumat (13/3).

Bayu menyebut sejumlah program pemerintah telah mengarah pada penguatan produksi pangan nasional, antara lain optimalisasi lahan, pencetakan sawah baru, serta modernisasi pertanian melalui mekanisasi. Menurut dia, peningkatan produktivitas menjadi penting di tengah menurunnya minat generasi muda untuk menjadi petani, sehingga modernisasi alat dan teknologi diperlukan agar produksi tetap tinggi.

Selain faktor geopolitik, ia menyoroti potensi kemarau panjang tahun ini sebagai tantangan bagi sektor pertanian. Informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut musim kemarau diprediksi mulai April dan berpotensi berlangsung cukup lama.

Untuk menghadapi ancaman kekeringan, Bayu mengusulkan tiga langkah. Pertama, memperkuat komunikasi antara penyuluh pertanian dan petani di lapangan. Ia mengatakan sebagian besar petani berusia di atas 50 tahun sehingga membutuhkan pendampingan, termasuk dalam menerima informasi cuaca dan strategi tanam yang tepat.

Kedua, mendorong inovasi teknologi pertanian, salah satunya melalui pengembangan varietas tanaman yang tahan kekeringan namun tetap berproduksi tinggi. Ketiga, memastikan informasi cuaca tersedia hingga tingkat desa, mengingat kondisi cuaca tidak sama di setiap wilayah Indonesia.

Bayu juga menekankan ketahanan pangan seharusnya dimulai dari tingkat rumah tangga. Menurut dia, masyarakat dapat memanfaatkan lahan kosong untuk menanam sayuran secara mandiri, termasuk dengan metode hidroponik, agar membantu memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

“Ketahanan pangan harus dimulai dari rumah tangga, kemudian RT, desa, hingga tingkat nasional,” ujarnya.

Sebelumnya, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyatakan dinamika geopolitik global dapat menjadi peluang untuk mempercepat transformasi ekonomi nasional. Pernyataan itu disampaikan dalam acara Tasyakuran HUT ke-1 Danantara Indonesia di Jakarta, Rabu (11/3).

Prabowo mengatakan sejarah menunjukkan negara yang mampu beradaptasi saat krisis akan menjadi lebih kuat. Menurutnya, tekanan global dapat mendorong percepatan agenda pembangunan strategis. “Krisis menurut saya adalah blessing in disguise yang memaksa kita mempercepat berbagai agenda pembangunan strategis,” kata Prabowo. Ia juga menilai Indonesia memiliki keunggulan melalui sumber daya alam yang melimpah.