BERITA TERKINI
Pembatasan Akses ke Tibet Dinilai Jadi Cara China Mengendalikan Narasi

Pembatasan Akses ke Tibet Dinilai Jadi Cara China Mengendalikan Narasi

JAKARTA — Tibet disebut masih menjadi salah satu wilayah paling tertutup di China bagi akses asing. Kondisi ini terjadi di tengah narasi Beijing yang selama bertahun-tahun menggambarkan kawasan tersebut sebagai simbol “persatuan etnis” dan kemajuan di bawah pemerintahan China.

Mantan asisten pribadi Dalai Lama, Khedroob Thondup, menilai pembatasan akses ke Tibet dilakukan secara sengaja untuk membatasi transparansi, menekan jurnalisme independen, dan mengontrol keterlibatan internasional. “Hambatan-hambatan itu bukan sesuatu yang kebetulan, tetapi disengaja,” ujar Thondup, seperti dikutip European Times, Rabu (6/5/2026).

Thondup menyebut Tibet berbeda dengan sebagian besar provinsi lain di China karena wisatawan asing wajib memiliki izin khusus untuk masuk ke Tibet Autonomous Region (TAR). Menurutnya, izin tersebut tidak otomatis diberikan dan harus melalui proses birokrasi yang ketat, biasanya dengan sponsor dari agen perjalanan resmi.

Ia mengatakan perjalanan independen bagi warga asing pada dasarnya mustahil dilakukan. Bahkan ketika izin diberikan, perjalanan disebut tetap dibatasi pada rute dan lokasi yang telah disetujui pemerintah. “Pesannya jelas. Tibet bukan tempat untuk dijelajahi secara bebas, tetapi sebuah panggung yang dikendalikan,” kata Thondup.

Selain pembatasan masuk, Thondup menilai pengawasan di Tibet berlangsung sangat intensif, mulai dari pemantauan hotel, pelacakan pergerakan, hingga pengawasan percakapan. Ia juga menyebut jurnalis asing menghadapi pembatasan paling ketat, sementara warga keturunan Tibet dari komunitas diaspora mendapat pengawasan lebih besar karena dianggap mampu “menembus narasi resmi negara.”