DENPASAR — Dunia kuliner di Bali berduka. Ni Ketut Ngasti, sosok yang dikenal sebagai pelopor nasi jinggo dan akrab disapa Men Djenggo, dikabarkan meninggal dunia pada Sabtu (9/5/2026) dalam usia 90 tahun.
Kabar duka tersebut dikonfirmasi oleh putra almarhumah, Chef Henry Alexie Bloem, yang juga dikenal sebagai tokoh kuliner nasional dan mantan Presiden Indonesian Chef Association (ICA). Menurut Henry, Men Djenggo meninggal dunia karena sakit.
Henry turut menceritakan asal-usul penamaan nasi jinggo yang berawal dari kisah personal keluarga. Nama itu berakar dari kegemaran suami Men Djenggo, Buddy Alexie Bloem, terhadap film koboi Amerika Serikat berjudul Django (1966) yang dibintangi Franco Nero.
Ia menyebut, ayahnya kerap menyanyikan lagu “Djenggo jago tembak” untuk menidurkannya saat kecil. Kebiasaan itu membuat Henry kecil kemudian dipanggil “Djenggo” oleh tetangga dan kerabat di Banjar Kaja, Kelurahan Sesetan.
Sesuai tradisi masyarakat Bali, Ni Ketut Ngasti lalu dipanggil Men Djenggo, yang berarti “ibunya Djenggo”. Seiring waktu, nasi bungkus racikannya yang dijual di kawasan Pelabuhan Benoa dikenal pelanggan sebagai Nasi Men Djenggo, sebelum pelafalannya bergeser menjadi nasi jinggo.
Kiprah Men Djenggo di dunia kuliner disebut dimulai pada era 1970-an. Saat itu, ia berjualan nasi bungkus untuk menyasar para pekerja di kawasan Pelabuhan Benoa, Denpasar, termasuk sopir tangki Pertamina dan para pemancing di sekitar pelabuhan.