BERITA TERKINI
Pelaku Pariwisata Buleleng Susun Strategi Jaga Kunjungan di Tengah Dampak Konflik Global

Pelaku Pariwisata Buleleng Susun Strategi Jaga Kunjungan di Tengah Dampak Konflik Global

Pelaku industri pariwisata di Kabupaten Buleleng mulai menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga stabilitas kunjungan wisatawan di tengah dampak konflik di Timur Tengah yang disebut memicu penurunan kunjungan.

Ketua BPC PHRI Buleleng, Dewo Ketut Suwardipa, menekankan pentingnya kolaborasi antara pelaku usaha dan pemerintah dalam menghadapi situasi tersebut. Salah satu langkah yang ditempuh adalah menyiapkan penawaran harga khusus tanpa mengurangi kualitas layanan.

“Kami akan membuat promo dan diskon menarik, namun tetap menjaga kualitas. Selain itu, event-event juga harus terus digelar untuk menarik wisatawan,” kata Dewo.

Selain strategi dari sisi usaha, pelaku pariwisata juga mendorong pemerintah untuk lebih aktif mengampanyekan bahwa Buleleng tetap aman dan layak dikunjungi. Upaya ini dinilai penting untuk menjaga kepercayaan pasar internasional.

Wakil Ketua Bidang Promosi PHRI Buleleng, Dwi Darmawijaya, menyampaikan bahwa pihaknya mulai melakukan diversifikasi pasar wisatawan. Jika sebelumnya lebih bergantung pada pasar Eropa, kini promosi diarahkan ke Australia, Asia, serta wisatawan domestik.

“Kami menggarap pasar Australia, China, Malaysia, Singapura, India, serta wisatawan domestik melalui promosi dan roadshow ke berbagai kota seperti Jakarta dan Bandung,” ujarnya.

Di sisi lain, pelaku industri turut menyoroti perlunya dukungan pemerintah melalui peningkatan promosi destinasi dan perbaikan infrastruktur, termasuk akses transportasi darat dan penyeberangan. Masyarakat juga diharapkan berperan menjaga kebersihan lingkungan dan kenyamanan destinasi wisata.

Dewo menambahkan, dampak pariwisata tidak hanya dirasakan oleh hotel dan restoran, tetapi juga sektor ekonomi masyarakat yang lebih luas. “Pariwisata bukan hanya soal hotel dan restoran, tapi berdampak luas pada ekonomi masyarakat, termasuk petani, nelayan, dan tenaga kerja,” katanya.

Para pelaku pariwisata berharap konflik global segera berakhir agar sektor pariwisata dapat kembali pulih dan mendorong perputaran ekonomi di Bali, khususnya Buleleng.