Pelaku ekonomi Engel Glendy Sahanggamu menilai pembentukan Dewan Perdagangan dan Investasi (Council of Trade and Investment) oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dapat menjadi forum strategis yang memengaruhi arah kebijakan ekonomi nasional dalam beberapa tahun ke depan.
Menurut Engel, langkah tersebut mencerminkan kemampuan membaca momentum geopolitik dan ekonomi global di tengah situasi dunia yang penuh ketidakpastian. Ia menilai pembentukan forum bilateral itu sebagai terobosan diplomasi ekonomi yang perlu diapresiasi.
“Forum bilateral tersebut bukan sekadar simbol penguatan hubungan diplomatik, melainkan instrumen konkret yang dapat menentukan arah kebijakan ekonomi nasional dalam beberapa tahun ke depan,” kata Engel dalam keterangannya, Senin (23/2).
Ia menambahkan, pertemuan dan penandatanganan yang dilakukan langsung oleh kedua kepala negara menunjukkan keseriusan Indonesia dan Amerika Serikat untuk membuka babak baru hubungan perdagangan yang lebih terukur dan terarah.
Engel juga menilai pembentukan dewan tersebut menjadi momentum bagi Indonesia untuk mempertegas posisinya dalam peta ekonomi dunia, terutama terkait dampaknya bagi pelaku usaha dan industri nasional. Di tengah dinamika ekonomi global yang fluktuatif, ia melihat council itu bisa berperan sebagai instrumen stabilisasi sekaligus akselerasi pertumbuhan, namun hasilnya bergantung pada konsistensi kebijakan, transparansi negosiasi, dan ketegasan dalam menjaga kepentingan domestik.
“Ini bukan hanya soal hubungan dua presiden, tapi bagaimana Indonesia memosisikan diri dalam peta ekonomi dunia. Council ini bisa menjadi penguat fondasi atau justru titik kritis, semua bergantung pada cara kita memainkannya,” ujarnya.
Dalam pandangannya, Amerika Serikat memiliki kepentingan besar terhadap sumber daya strategis Indonesia, terutama mineral kritis yang dibutuhkan dalam rantai pasok global industri kendaraan listrik dan teknologi energi bersih. Di sisi lain, Indonesia membutuhkan akses pasar yang lebih luas, kepastian tarif, serta akses teknologi untuk meningkatkan nilai tambah industri dan menjaga stabilitas ekspor.
“Kerja sama ini harus menguntungkan dua arah. Indonesia tidak boleh hanya menjadi sumber bahan baku. Hilirisasi dan transfer teknologi harus menjadi prioritas dalam setiap negosiasi,” kata Engel.
Ia juga memperkirakan pembentukan Council of Trade and Investment akan memengaruhi persepsi investor global terhadap stabilitas kebijakan Indonesia. Engel menilai sektor hilirisasi mineral, energi baru terbarukan, pertahanan, dan ekonomi digital berpotensi menjadi fokus awal pembahasan.
Selain itu, ia menyebut peluang kolaborasi di bidang semikonduktor, pusat data, dan pengembangan kecerdasan buatan dapat terbuka apabila kedua negara mampu menyepakati kerangka kerja yang saling menguntungkan.
Meski demikian, Engel mengingatkan adanya risiko ketergantungan apabila kerja sama tidak diimbangi dengan diversifikasi mitra dagang. Menurut dia, dalam konteks geopolitik global yang dinamis, kedekatan ekonomi dapat membawa implikasi strategis yang lebih luas.
“Pemerintah perlu menjaga keseimbangan agar kepentingan nasional tetap menjadi prioritas utama. Jika dikelola dengan presisi, Indonesia bisa memperkuat fondasi ekonominya. Jika tidak, tekanan global justru bisa semakin besar,” tuturnya.

