Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menilai eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah berada di luar kendali dan berisiko memicu perang yang lebih luas. PBB juga memperingatkan potensi guncangan terhadap ekonomi global, terutama melalui gangguan pasokan energi dan pangan.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengatakan peningkatan intensitas konflik telah melampaui ekspektasi awal para pemimpin dunia. “Dunia sedang menghadapi risiko perang yang lebih luas, meningkatnya penderitaan manusia, serta guncangan ekonomi global yang semakin dalam,” ujarnya. Ia menegaskan, “Situasi ini sudah melampaui batas,” kata Guterres kepada wartawan usai pertemuan Dewan Keamanan PBB di New York, Rabu (26/3/2026).
Menurut Guterres, konflik tersebut memicu dampak sistemik di kawasan Timur Tengah dan merambat ke perekonomian global. Salah satu titik krusial yang disorot adalah Selat Hormuz, jalur distribusi energi strategis yang dinilai rentan terganggu akibat eskalasi.
Untuk merespons situasi, PBB menunjuk diplomat senior Jean Arnault sebagai utusan pribadi Sekjen. Arnault disebut akan memimpin upaya mediasi di lapangan, termasuk menjalin komunikasi dengan semua pihak serta menilai dampak konflik secara menyeluruh.
Guterres juga menyampaikan seruan langsung kepada pihak-pihak yang terlibat. Ia mendesak Amerika Serikat dan Israel untuk segera menghentikan perang, serta meminta Iran menghentikan serangan terhadap negara-negara yang tidak terlibat konflik. “Sudah saatnya perang ini dihentikan,” tegasnya. Ia juga meminta Iran untuk “menghentikan serangan terhadap negara tetangga yang tidak terlibat dalam konflik.”
PBB menekankan pentingnya menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital distribusi minyak, gas, dan pupuk dunia. Gangguan di jalur ini dinilai berpotensi memperparah krisis energi dan mengganggu rantai pasok global.
Dari sisi kemanusiaan, Guterres menyatakan warga sipil di wilayah terdampak menghadapi tekanan serius dan hidup dalam ketidakamanan. Ia turut menyoroti situasi di Lebanon dan menegaskan perlunya penghentian konflik, sekaligus meminta semua pihak menghentikan serangan yang berdampak langsung pada masyarakat sipil.
Guterres juga memperingatkan dampak lanjutan terhadap ekonomi global, termasuk gejolak pasar keuangan serta terganggunya operasi kemanusiaan. Ia menilai negara berkembang menjadi kelompok yang paling terdampak, terutama akibat tekanan inflasi, lonjakan harga energi, dan meningkatnya beban biaya hidup.
Selain energi, PBB menyoroti risiko gangguan pasokan pupuk yang dapat berujung pada krisis pangan global. “Tanpa pupuk hari ini, kita bisa menghadapi kelaparan di masa depan,” ujar Guterres.
Di akhir pernyataannya, Guterres menegaskan perlunya jalur diplomasi untuk menghentikan eskalasi. “Diplomasi harus menjadi jalan utama. Perang bukanlah jawaban. Kita membutuhkan jalan keluar dari bencana ini,” katanya.

