BERITA TERKINI
PBB: Konflik Timur Tengah Picu Guncangan Ekonomi Langsung di Asia-Pasifik

PBB: Konflik Timur Tengah Picu Guncangan Ekonomi Langsung di Asia-Pasifik

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan adanya “guncangan langsung” terhadap kawasan Asia-Pasifik akibat konflik di Timur Tengah, terutama melalui lonjakan harga energi dan biaya transportasi yang berdampak pada rumah tangga maupun dunia usaha.

Dalam sebuah program pada 16 April, Asisten Sekretaris Jenderal PBB Kanni Wignaraja mengatakan biaya hidup dan biaya produksi meningkat pesat di kawasan tersebut seiring kenaikan harga bahan bakar dan ongkos pengiriman. Menurutnya, seluruh negara di Asia-Pasifik terdampak dalam tingkat yang berbeda-beda, dan negara yang lebih cepat beradaptasi dinilai mampu mengurangi kerusakan ekonomi. PBB memperkirakan 8,8 juta orang berisiko jatuh ke dalam kemiskinan.

Penilaian itu disampaikan setelah Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) merilis laporan pada 14 April yang menyebut dampak konflik telah menyebar ke seluruh Asia-Pasifik, meski terdapat gencatan senjata sementara.

Laporan yang mencakup 36 negara tersebut menyoroti tingginya ketergantungan kawasan pada impor energi dan rantai pasokan penting. Lebih dari 80% minyak mentah dan gas alam cair (LNG) yang melewati Selat Hormuz disebut diangkut ke Asia. Ketika jalur pengiriman ini terganggu, kekhawatiran atas pasokan mendorong kenaikan harga energi, yang kemudian meningkatkan biaya transportasi, listrik, makanan, dan pupuk.

UNDP juga menyoroti situasi yang dinilai sangat buruk di Iran, di mana lebih dari 5 juta orang dapat terjerumus ke dalam kemiskinan dan pembangunan manusia berisiko melambat. Jika konflik meningkat, produk domestik bruto (PDB) kawasan Asia-Pasifik diperkirakan dapat turun hingga 299 miliar dolar AS, terutama di negara-negara yang lambat beradaptasi.

Laporan tersebut memperingatkan, apabila guncangan berlanjut, pemerintah akan menghadapi pilihan sulit antara mengendalikan harga, mendukung masyarakat, dan mempertahankan pengeluaran untuk kesehatan, pendidikan, infrastruktur, serta jaminan sosial.

Wignaraja menilai langkah yang ditempuh saat ini umumnya masih bersifat sementara, seperti pemotongan pajak atau dukungan pendapatan. Dalam jangka panjang, ia mendorong penguatan ketahanan energi melalui transisi ke energi terbarukan dan diversifikasi sumber pasokan.