Pasar saham dunia bergerak melemah pada Jumat, mengikuti koreksi di Wall Street yang dipicu meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi kredit perbankan di Amerika Serikat. Tekanan ini datang di tengah sentimen pasar yang sudah rapuh akibat perang dagang, kekhawatiran valuasi saham teknologi, serta berlarutnya penutupan pemerintahan AS.
Setelah reli berbulan-bulan yang mendorong sejumlah indeks mencetak rekor, sentimen investor terguncang sejak Presiden AS Donald Trump kembali memanaskan perang tarif dengan Tiongkok pada Jumat pekan lalu. Langkah tersebut memicu respons balasan yang memperburuk ketidakpastian di pasar.
Perhatian investor tertuju pada sektor perbankan AS sejak perusahaan suku cadang First Brands dan pemberi pinjaman subprime Tricolor mengajukan kebangkrutan pada September. First Brands dilaporkan memiliki utang miliaran dolar kepada para pemberi pinjaman.
Kekhawatiran itu berlanjut pekan ini setelah muncul kabar Zions Bancorp mengalami penghapusan utang sebesar US$ 50 juta terkait pinjaman komersial dari cabangnya di California. Sementara itu, Western Alliance menyatakan seorang peminjam gagal memberikan jaminan yang dijanjikan.
Rangkaian kabar tersebut menekan saham bank-bank menengah dan merembet ke pasar saham AS secara luas, dengan tiga indeks utama Wall Street ditutup melemah. Indeks Volatilitas VIX, yang kerap dipantau sebagai indikator kecemasan investor, naik ke level tertinggi sejak Mei.
Di tengah meningkatnya kehati-hatian, emas sebagai aset lindung nilai kembali mencetak rekor di US$ 4.379,93 per ons. Perak juga dilaporkan mencapai puncak baru.
Tekanan pada pasar turut diperparah oleh kekhawatiran bahwa valuasi—terutama pada saham teknologi—dinilai terlalu tinggi, memunculkan spekulasi pasar berada dalam gelembung yang dipicu oleh AI dan berisiko pecah. Rodrigo Catril dari National Australia Bank mengatakan volatilitas di bank-bank regional, ditambah kolapsnya Tricolor Holdings, membuat investor mempertanyakan kesehatan pasar kredit AS secara umum.
Sentimen negatif di New York menjalar ke Asia. Bursa Hong Kong turun 2,5% dan Shanghai melemah 2%. Tokyo dan Taipei masing-masing turun lebih dari 1%, sementara Singapura, Sydney, Wellington, Bangkok, dan Manila juga berada di zona merah.
Di Eropa, tekanan serupa terjadi dengan London, Paris, dan Frankfurt turun lebih dari 1%.
Investor juga tetap waspada setelah Washington dan Beijing saling serang terkait perdagangan dan pengiriman. Ketegangan meningkat menyusul peringatan Trump pada Jumat bahwa ia akan mengenakan tarif 100% kepada Tiongkok atas kontrol ekspor tanah jarangnya.
Dari dalam negeri AS, kebuntuan politik di Washington belum menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri penutupan pemerintah. Kondisi ini menyebabkan sejumlah departemen berhenti beroperasi dan menunda rilis data penting yang biasanya menjadi pertimbangan Federal Reserve dalam menentukan kebijakan.
Meski demikian, sebagian pelaku pasar masih memperoleh sedikit dukungan dari ekspektasi bahwa bank sentral akan memangkas suku bunga setidaknya sekali lagi tahun ini. Namun, ekspektasi tersebut juga terkait dengan serangkaian laporan yang menunjukkan pasar tenaga kerja AS memburuk.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah melanjutkan tren penurunan di tengah kekhawatiran atas ketegangan AS-Tiongkok. Aksi jual juga terjadi setelah muncul kabar Trump akan bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membahas upaya mengakhiri konflik di Ukraina.

