Pasar keuangan global memasuki pekan perdagangan baru dengan nada yang lebih berhati-hati, seiring investor mencerna penyesuaian kebijakan perdagangan dan faktor hukum yang ikut memengaruhi sentimen. Pada perdagangan pra-pembukaan di Amerika Serikat pada 23 Februari, indeks Dow Jones turun 0,48% atau sekitar 239 poin, S&P 500 melemah 0,43%, dan Nasdaq 100 turun 0,57%. Pergerakan ini mencerminkan kehati-hatian investor dalam jangka pendek di tengah perubahan lingkungan kebijakan.
Meski demikian, Wall Street menutup pekan sebelumnya dengan kenaikan, dengan Nasdaq mengakhiri tren penurunan selama lima pekan berturut-turut. Sejumlah analis menilai perhatian pasar kini mengarah pada stabilitas dan prediktabilitas kebijakan, karena faktor tersebut dinilai berpengaruh besar terhadap keputusan alokasi modal.
Perbedaan kinerja tampak jelas di berbagai kelas aset. Saham-saham yang terkait dengan mata uang kripto terkoreksi sekitar 2% seiring pelemahan harga Bitcoin. Di sisi lain, sektor kecerdasan buatan masih menarik minat, namun kebutuhan investasi skala besar juga meningkatkan tuntutan terhadap kinerja, yang pada gilirannya memengaruhi valuasi saham-saham teknologi.
Di pasar komoditas, kecenderungan beralih ke instrumen yang dinilai lebih aman terlihat dari penguatan harga emas sebesar 2,1% dan lonjakan harga perak 5,6%. Pergerakan ini mengindikasikan investor memprioritaskan aset yang dinilai mampu mempertahankan nilai ketika banyak faktor masih perlu dipantau.
Sementara itu, harga minyak bergerak naik tipis. Minyak mentah WTI AS bertambah 19 sen menjadi US$66,67 per barel, sedangkan Brent naik 18 sen menjadi US$71,48 per barel. Kenaikan tersebut mencerminkan penilaian pasar yang tetap berhati-hati terhadap dinamika pasokan dan permintaan energi global.
Di luar AS, bursa regional menunjukkan kinerja yang beragam. Di Eropa, indeks-indeks utama berfluktuasi dalam kisaran sempit, dengan beberapa pasar cenderung melemah tipis, sementara sebagian lainnya hanya mencatat kenaikan moderat. Di Asia, perbedaan lebih mencolok: Indeks Hang Seng naik 2,5% menjadi 27.081 poin, KOSPI menguat 0,7%, sedangkan S&P/ASX 200 turun 0,6%. Sejumlah pasar lain bergerak terbatas atau relatif stabil.
Variasi pergerakan tersebut mencerminkan perbedaan struktur pasar antarwilayah, tingkat ketergantungan perdagangan, serta ekspektasi pertumbuhan di tengah kebijakan yang bergejolak.
Fluktuasi juga terjadi di pasar mata uang dan obligasi. Dolar AS melemah pada awal pekan di Asia, turun terhadap mata uang safe-haven seperti franc Swiss dan yen Jepang. Kondisi ini menunjukkan meningkatnya kehati-hatian investor, di tengah kekhawatiran terkait situasi fiskal AS dan inflasi.
Di pasar obligasi, perdagangan Treasury AS berlangsung hati-hati karena investor terus memantau perubahan kebijakan dan prospek ekonomi. ING menilai ketidakpastian telah kembali dan mendorong kehati-hatian di pasar. Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun tercatat sedikit meningkat dibandingkan sebelumnya, namun tetap jauh di bawah level tertinggi yang sempat terjadi pada pertengahan 2025. Perkembangan ini terjadi di tengah sinyal pendinginan inflasi dan ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) dapat bergerak menuju kebijakan yang lebih fleksibel.
Gubernur The Fed Christopher Waller menyatakan bank sentral dapat mempertimbangkan untuk menahan suku bunga pada pertemuan Maret apabila data ekonomi terus menunjukkan tren yang stabil. Pernyataan semacam ini ikut membentuk ekspektasi suku bunga dan memengaruhi aliran modal antara saham, obligasi, dan aset lain. Namun, sebagian pihak mengingatkan pasar dinilai terlalu fokus pada faktor jangka pendek, sementara risiko jangka panjang seperti defisit anggaran yang tinggi masih berpotensi menekan pasar obligasi.
Alberto Conca, Direktur Investasi di LFG+ZEST (Swiss), menilai pasar saat ini sangat terfokus pada isu jangka pendek seperti kemungkinan inflasi mereda dan prospek penyesuaian suku bunga. Menurutnya, pendekatan tersebut belum tentu sepenuhnya mencerminkan risiko jangka menengah dan panjang, terutama mengingat defisit anggaran AS yang tinggi, yang dapat menambah tekanan pada pasar obligasi dan berdampak pada suku bunga dalam waktu dekat.
Di tengah dinamika tersebut, peran investor individu kian menonjol. Data Vanda menunjukkan nilai transaksi investor ritel pada saham dan ETF sepanjang 2025 diproyeksikan mencapai sekitar US$5,4 triliun, naik hampir 47% dibanding tahun sebelumnya dan menjadi level tertinggi setidaknya sejak 2014.

