MALANG — Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran menjadi perhatian dunia karena dinilai berpotensi meluas ke sektor ekonomi global, terutama terkait stabilitas energi. Persaingan yang berakar pada persoalan keamanan eksistensial ini diperkirakan akan terus berlanjut dan memicu ketidakpastian pada pasokan energi internasional.
Pakar Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dion Maulana P., menilai konflik tersebut sulit diredam karena masing-masing pihak memandang lawannya sebagai ancaman terhadap kelangsungan hidup negara.
“Persoalan keamanannya sudah pada level eksistensial. Iran adalah ancaman bagi Israel, begitu pula sebaliknya. Selama salah satu pihak merasa eksistensinya terancam oleh kehadiran pihak lain, konflik ini akan terus ada,” kata Dion, Kamis, 5 Maret 2026.
Menurut Dion, kebuntuan diplomasi nuklir antara Washington dan Teheran turut memperburuk situasi. Iran dipandang mengancam sekutu AS di Timur Tengah serta basis-basis militer Amerika di kawasan, yang kemudian memicu tindakan-tindakan militer berisiko tinggi.
Dion menyoroti ancaman terhadap jalur energi dunia di Selat Hormuz sebagai dampak yang paling nyata dan berbahaya saat ini. Ia menyebut, apabila jalur distribusi minyak yang vital tersebut sampai ditutup secara permanen akibat perang, guncangan ekonomi global sulit dihindari.
“Terganggunya distribusi energi internasional melalui Selat Hormuz akan memicu lonjakan harga minyak dunia. Bagi Indonesia, ini berarti ancaman inflasi dan krisis energi yang harus segera diantisipasi,” ujarnya.
Meski situasi memanas, Dion mengimbau masyarakat tetap tenang dan kritis dalam menyikapi informasi yang beredar. Ia menekankan bahwa klaim mengenai pecahnya Perang Dunia Ketiga masih terlalu dini dan membutuhkan verifikasi kompleks, terutama terkait kemungkinan keterlibatan negara-negara besar seperti Rusia atau China.
“Proses menuju perang global sangat kompleks. Publik harus melakukan cek dan ricek terhadap informasi yang beredar agar tidak terburu-buru mengambil kesimpulan yang memicu kepanikan massal,” katanya.

