BERITA TERKINI
Organisasi Gereja Dunia dan PGI Serukan Penghentian Aksi Militer serta Pemulihan Diplomasi di Tengah Eskalasi Konflik

Organisasi Gereja Dunia dan PGI Serukan Penghentian Aksi Militer serta Pemulihan Diplomasi di Tengah Eskalasi Konflik

Sejumlah organisasi gereja dunia menyatakan keprihatinan mendalam atas eskalasi konflik yang meluas di berbagai kawasan, termasuk Timur Tengah dan Asia Selatan, yang dinilai telah memicu dampak kemanusiaan dan sosial serius. Seruan itu disampaikan dalam pernyataan bersama pada 9 Maret 2026 oleh World Council of Churches, Middle East Council of Churches, Lutheran World Federation, World Communion of Reformed Churches, World Methodist Council, Mennonite World Conference, Christian Conference of Asia, dan ACT Alliance.

Dalam pernyataan tersebut, organisasi-organisasi itu menyoroti penderitaan warga, termasuk di Iran, yang selama bertahun-tahun menghadapi tantangan politik, ekonomi, dan sosial. Situasi disebut memburuk seiring konflik bersenjata yang mengancam keselamatan warga sipil. Salah satu peristiwa yang disorot adalah serangan rudal terhadap sebuah sekolah perempuan di Minab, Iran selatan, yang dilaporkan menewaskan sekitar 175 siswi dan staf sekolah.

Selain korban jiwa, konflik juga disebut memicu gelombang pengungsian, memaksa ratusan ribu orang mencari keselamatan. Kondisi ini dinilai memperparah krisis kemanusiaan di kawasan yang sebelumnya telah menampung jumlah pengungsi besar.

Organisasi gereja dunia itu juga menyinggung dugaan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional dalam operasi militer. Mereka menilai pengabaian jalur diplomasi dan pilihan pada kekerasan bersenjata merupakan langkah berbahaya dan bertentangan dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dampak sosial-ekonomi konflik dipandang meluas, mengancam kehidupan masyarakat, kestabilan regional, serta masa depan komunitas Kristen di wilayah terdampak.

Sejalan dengan itu, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) menyatakan turut memantau perkembangan konflik global dengan keprihatinan mendalam. Dalam pernyataan sikap resminya, PGI menilai eskalasi kekerasan di Timur Tengah maupun Asia Selatan telah memicu instabilitas regional dan berpotensi berkembang menjadi krisis global.

PGI mengecam tindakan militer yang dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, konflik antara Pakistan dan Afghanistan, serta pembalasan militer yang dilakukan Iran. PGI menegaskan kecaman itu tidak dimaksudkan untuk berpihak pada negara tertentu, melainkan sebagai pembelaan terhadap warga sipil yang menderita, anak-anak yang mengalami trauma, dan keluarga yang tercerai-berai akibat perang.

PGI menekankan bahwa keberpihakan gereja adalah pada mereka yang paling rentan. Gereja, menurut PGI, dipanggil untuk menghadirkan pengharapan melalui solidaritas nyata, tindakan kemanusiaan, dan kepedulian terhadap kelompok terdampak, termasuk pengungsi, anak-anak, serta mereka yang menghadapi tekanan ekonomi dan sosial akibat konflik global.

Dalam seruannya, PGI meminta penghentian semua aksi militer dan mendesak PBB, lembaga internasional, serta pemerintah dunia untuk memulihkan jalur diplomasi, mematuhi hukum humaniter internasional, dan mengupayakan dialog politik melalui mekanisme internasional maupun regional.

PGI juga mengajak gereja-gereja dan umat Kristen merespons krisis global dengan iman yang teguh. Umat diminta tetap tenang, menghidupi keugaharian dengan tidak terjebak konsumtivitas atau kepanikan, berani berkata cukup, serta memperkuat solidaritas sosial bagi sesama, terutama kelompok yang paling terdampak.

Menurut PGI, perdamaian sejati hanya dapat dicapai melalui kasih, keadilan, dan belas kasih, bukan melalui kekerasan atau kekuatan senjata. Karena itu, umat diajak untuk mendoakan perdamaian di Timur Tengah dan Asia Selatan, menunjukkan solidaritas bagi para korban, menghindari ujaran kebencian, serta menguatkan kepedulian terhadap mereka yang paling rentan.

Bersama gereja-gereja di berbagai negara, PGI menyerukan agar para pemimpin dunia diberi hikmat untuk memilih jalan damai, menghentikan tindakan yang mengancam kehidupan manusia, dan menegakkan keadilan serta kesejahteraan bagi semua. Doa, solidaritas, dan tindakan nyata disebut sebagai landasan bagi gereja untuk tetap hadir sebagai agen perdamaian dan pengharapan di tengah ketidakpastian dunia.