Situasi geopolitik global dinilai kian tidak stabil, seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, termasuk konflik Israel-Iran. Menurut AM Hendropriyono, kondisi tersebut berpotensi mengganggu pasokan energi dunia, jalur perdagangan internasional, serta stabilitas ekonomi global.
Dalam tulisannya, Hendropriyono menilai kekuatan sebuah negara tidak semata ditentukan oleh kekayaan sumber daya, melainkan oleh kemampuan membangun basis produksi nasional yang mandiri dan sanggup bersaing dalam perdagangan dunia. Ia juga menyebut Indonesia memiliki peluang strategis untuk memperkuat posisinya sebagai kekuatan ekonomi utama di kawasan Indo-Pasifik, namun hal itu memerlukan percepatan transformasi ekonomi dari eksportir bahan mentah menjadi produsen barang bernilai tambah tinggi.
Hendropriyono mengaitkan gagasan tersebut dengan pemikiran Prof. Soemitro Djojohadikusumo mengenai integrasi ekonomi nasional, yang ia sebut dapat dipahami sebagai konsep Indonesia Incorporated. Konsep ini menekankan perlunya negara mengintegrasikan kekuatan produksi nasional, pasar domestik, dan ekspansi perdagangan global.
Ia memaparkan sejumlah keunggulan strategis Indonesia, mulai dari cadangan mineral strategis dunia seperti nikel, bauksit, tembaga, dan timah; kekuatan agrikultur tropis seperti sawit, kakao, kopi, dan rempah; potensi kelautan; hingga pasar domestik yang besar dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa. Menurutnya, bila dikelola melalui industrialisasi nasional, kombinasi tersebut dapat menempatkan Indonesia sebagai pusat produksi strategis di kawasan Indo-Pasifik.
Dalam kerangka itu, Hendropriyono mengusulkan lima arah kebijakan prioritas. Pertama, industrialisasi mineral strategis melalui percepatan hilirisasi untuk membangun industri masa depan, antara lain nikel untuk baterai kendaraan listrik, bauksit untuk aluminium industri, serta tembaga untuk komponen energi dan elektronik. Ia menilai Indonesia perlu menjadi basis industri energi masa depan dunia.
Kedua, integrasi logistik nasional untuk memperkuat pasar domestik, yang mencakup perluasan Tol Laut, pengembangan pelabuhan hub nasional, serta upaya menurunkan biaya logistik. Menurutnya, pasar domestik yang terintegrasi akan menjadi fondasi industrialisasi nasional.
Ketiga, hilirisasi agrikultur dan kelautan dengan meningkatkan nilai tambah komoditas tropis. Hendropriyono mencontohkan sawit menjadi oleokimia dan biofuel, rumput laut untuk farmasi dan bioteknologi, serta perikanan untuk protein laut global. Ia menilai Indonesia berpotensi menjadi kekuatan pangan tropis dunia.
Keempat, ketahanan energi nasional dengan mengurangi ketergantungan impor energi melalui biofuel berbasis sawit, pengembangan panas bumi, serta pembangunan cadangan energi strategis. Langkah ini, menurutnya, penting untuk menghadapi ketidakpastian geopolitik global.
Kelima, diplomasi ekonomi global untuk memperluas pasar ekspor industri nasional. Ia menyebut diplomasi perdagangan dan pembukaan pasar baru di Afrika, Asia Selatan, serta Timur Tengah sebagai bagian dari upaya tersebut.
Di bagian akhir, Hendropriyono menyimpulkan Indonesia memiliki prasyarat untuk menjadi kekuatan ekonomi besar dunia, yakni sumber daya alam yang besar, pasar domestik yang luas, dan posisi geopolitik yang strategis. Ia menilai dengan mengintegrasikan kekuatan tersebut melalui strategi Indonesia Incorporated, Indonesia dapat membangun ekonomi yang mandiri secara nasional, tangguh menghadapi krisis global, dan kompetitif dalam perdagangan dunia. Menurutnya, transformasi ini bukan sekadar pilihan kebijakan ekonomi, melainkan keharusan strategis bagi masa depan Indonesia.

