BERITA TERKINI
OJK: Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Terjaga Meski Ketidakpastian Global Tinggi

OJK: Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Terjaga Meski Ketidakpastian Global Tinggi

Jakarta — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan Indonesia masih terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global. Penilaian itu disampaikan Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi berdasarkan hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan pada 30 April 2026.

Dalam konferensi daring yang diberitakan pada Rabu (6/5/2026), Friderica menyebut ketidakpastian global masih tinggi meski sempat terjadi kesepakatan gencatan senjata antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel pada awal April 2026. Namun, penutupan Selat Hormuz disebut masih berlangsung, sehingga mengganggu distribusi energi dunia dan membuat harga minyak tetap tinggi serta fluktuatif.

Menurut OJK, kondisi tersebut turut memengaruhi proyeksi ekonomi global. International Monetary Fund (IMF) dalam laporan World Economic Outlook April 2026 memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia menjadi 3,1%. Risiko stagflasi juga dinilai meningkat, seiring tekanan inflasi, tingginya utang global, dan gangguan rantai pasok.

Di Amerika Serikat, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026 diperkirakan melambat. Inflasi kembali naik dipicu kenaikan harga energi dan barang, sementara kepercayaan konsumen melemah. Dalam situasi tersebut, Federal Reserve memilih menahan suku bunga acuan.

Sementara itu, ekonomi Tiongkok pada kuartal pertama 2026 masih tumbuh sekitar 5% yang ditopang sektor ekspor dan manufaktur. Meski demikian, laju pertumbuhan mulai melambat seiring melemahnya permintaan domestik.

Di dalam negeri, OJK mencatat perekonomian Indonesia menunjukkan kinerja yang relatif kuat dengan pertumbuhan 5,61%. Pertumbuhan ini didorong konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah.

Dari sisi permintaan, kepercayaan konsumen masih berada pada zona optimistis meski sedikit menurun. Penjualan ritel tercatat tumbuh 2,4% secara tahunan, sementara penjualan kendaraan masih mengalami kontraksi.

Ketahanan eksternal juga dinilai relatif terjaga. Cadangan devisa tercatat mencapai 148,2 miliar dolar AS, sedangkan neraca perdagangan masih membukukan surplus.