BERITA TERKINI
OJK Peringatkan Konflik AS-Iran Berisiko Tekan Permintaan Kredit, Terutama Sektor Ekspor-Impor

OJK Peringatkan Konflik AS-Iran Berisiko Tekan Permintaan Kredit, Terutama Sektor Ekspor-Impor

Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran berpotensi memengaruhi permintaan kredit perbankan di Indonesia. Risiko tersebut terutama mengarah pada sektor usaha yang memiliki keterkaitan kuat dengan aktivitas perdagangan internasional.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan sektor berorientasi ekspor dan impor berpeluang menghadapi gangguan seiring meningkatnya ketidakpastian global. Kondisi itu, menurutnya, dapat menekan aktivitas usaha dan pada akhirnya berdampak pada kebutuhan pembiayaan di sektor terkait.

Dian menilai sektor usaha dengan paparan internasional (international exposure) lebih rentan terhadap gejolak global. Meski demikian, ia menyatakan optimistis stabilitas sistem keuangan Indonesia tetap terjaga, dengan pengalaman menghadapi krisis sebelumnya—termasuk pandemi Covid-19—menjadi bekal bagi pemerintah dan otoritas keuangan untuk menjaga stabilitas.

“Kita melihat bahwa upaya-upaya yang kita lakukan, maksud saya di sektor kita paling tidak, untuk mengamankan financial stability itu, mungkin insyaallah itu tidak akan terlalu ganggu, terlalu serius, ya kita pernah menghadapi krisis yang berat seperti Covid,” kata Dian saat ditemui di Gedung Mahkamah Agung, Rabu, 25 Maret 2026.

Meski tetap optimistis, OJK menegaskan akan terus memantau perkembangan situasi global. Jika konflik memburuk, OJK menyatakan akan mempertimbangkan langkah antisipasi, termasuk evaluasi kebijakan terhadap sektor-sektor yang berpotensi terdampak.

“Nah ini tentu kita harus lihat bagaimana perkembangannya dan saya juga sudah minta sebetulnya, tentu teman-teman pengawas dan juga perbankan untuk betul-betul melihat situasi volatilitas global itu sebagai warning sign kepada kita untuk kita selalu mempersiapkan diri untuk for the worst,” ujar Dian.

Dari sisi perbankan, Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Santoso Liem menyampaikan permintaan kredit secara umum masih cukup baik, meski tidak merata di seluruh sektor. Namun, ia mengingatkan konflik global dapat mengganggu rantai pasok sejumlah komoditas dan memengaruhi industri tertentu.

“Supply chain kan kita tahu terganggu beberapa karena peperangan, juga komoditi tertentu. Komoditi yang dari dulu kan gandum kita tahu tergantung dari Ukraina. Ada yang sangat support terhadap turunan daripada minyak. Contohnya industri plastik, industri chemical itu pasti akan berdampak,” kata Santoso.

Santoso menambahkan, pelaku usaha pada umumnya telah menyiapkan langkah antisipasi menghadapi ketidakpastian global. Meski begitu, dampak terhadap keberlanjutan produksi tetap menjadi perhatian, termasuk potensi gangguan terhadap continuity bisnis.

“Tapi kita juga tahu ada beberapa negara bahkan beberapa pemain itu mengangkat kemungkinan akan terjadi dampak terhadap continuity daripada bisnis mereka. Makanya ada beberapa yang mengatakan force majuere itu memang betul akan berdampak pada sustainability daripada produksinya,” ujarnya.

Ia memperkirakan sebagian industri dapat menahan ekspansi atau mengambil sikap wait and see sampai arah situasi geopolitik lebih jelas. “Jadi intinya pasti industri ada waktunya untuk ngerem, ada waktunya untuk ngegas. Jadi kita nantikan saja karena kita juga enggak ada yang tahu kapan perang ini akan berakhir,” ucap Santoso.