Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 hanya mencapai 4,8 persen. Perkiraan ini lebih rendah dibanding proyeksi OECD pada Desember 2025 yang menempatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5 persen untuk 2026.
Penurunan proyeksi tersebut terjadi di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah. Dalam laporan yang sama, OECD juga memperkirakan inflasi Indonesia meningkat menjadi 3,4 persen, naik dari perkiraan sebelumnya 3,1 persen.
Laporan bertajuk OECD Economic Outlook, Interim Report Testing Resilience edisi Maret 2026 menyoroti gangguan di Selat Hormuz yang memicu lonjakan harga energi serta mengganggu pasokan global energi dan komoditas penting lainnya. OECD menilai ketahanan ekonomi global sedang diuji oleh konflik yang kian memanas, sementara luas dan durasi konflik masih sangat tidak pasti.
OECD juga mencatat gangguan besar pada pasar energi dan komoditas global dapat mendorong kenaikan harga dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan. Jika berlanjut, kondisi ini dinilai berpotensi membebani pertumbuhan global sekaligus mendorong inflasi lebih tinggi. OECD menambahkan, kenaikan harga energi yang berkepanjangan dapat menambah biaya usaha dan meningkatkan inflasi harga konsumen, yang pada akhirnya berdampak negatif terhadap pertumbuhan.
Di sisi lain, OECD menyebut sebelum eskalasi konflik, pertumbuhan global masih menunjukkan ketangguhan. Konsumsi swasta dan investasi menjadi pendorong utama di banyak negara, dengan dukungan kondisi keuangan dan fiskal, serta peningkatan permintaan terhadap teknologi kecerdasan buatan.
Sejalan dengan risiko geopolitik dan tekanan harga energi, OECD juga memangkas prospek pertumbuhan ekonomi global menjadi 2,9 persen, melambat dibanding tahun sebelumnya yang sebesar 3,3 persen. Sementara itu, ekonomi negara-negara G20 diperkirakan tumbuh 3,0 persen, turun dari proyeksi sebelumnya 3,3 persen.

