Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menilai konflik di Timur Tengah menjadi faktor yang membebani perekonomian global dan memengaruhi proyeksi pertumbuhan serta inflasi di sejumlah negara.
OECD menyatakan, tanpa konflik tersebut, lembaga itu dapat merevisi perkiraan pertumbuhan ekonomi global untuk 2026 naik 0,3 poin. Namun, OECD memilih mempertahankan prediksi pertumbuhan 2026 di level 2,9% dan memangkas proyeksi 2027 sebesar 0,1 poin menjadi 3%.
Perubahan kondisi ekonomi yang terjadi secara cepat turut mendorong penyesuaian strategi para pembuat kebijakan. Pekan lalu, Federal Reserve mengisyaratkan bahwa pemotongan biaya pinjaman di Amerika Serikat masih belum akan terjadi dalam waktu dekat.
Di Eropa, pejabat Bank Sentral Eropa disebut tengah mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga paling cepat pada April. Sementara itu, pejabat Norwegia pada Kamis menyampaikan bahwa mereka bahkan telah mendiskusikan langkah serupa yang dapat dilakukan secepatnya pada pekan ini.
Untuk Amerika Serikat, OECD memperkirakan inflasi akan melonjak menjadi 4,2% tahun ini, naik dari 2,6% pada tahun lalu. Proyeksi inflasi untuk tahun ini juga disebut 1,2 persen lebih tinggi dibandingkan perkiraan pada Desember.

