PT Bank OCBC NISP Tbk (OCBC) berharap pemerintah dapat menjaga tingkat inflasi di tengah konflik yang terjadi di Timur Tengah. Menurut OCBC, langkah tersebut penting untuk meredam dampak rambatan krisis global yang dinilai berpotensi menyeret kondisi ke arah krisis keuangan.
Direktur OCBC Johannes Husin menyebut situasi di Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga minyak yang memicu tekanan inflasi. Karena itu, ia menilai upaya terbaik saat ini adalah memastikan inflasi tetap terkendali.
“Apalagi sekarang ada krisis di Timur Tengah yang menaikan harga minyak, yang jelas itu adalah inflationary pressure. Jelas yang terbaik saat ini adalah memastikan inflasi terkendali,” ujar Johannes di OCBC Tower, dikutip Jumat, 10 April 2026.
Terkait arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) yang masih menerapkan pendekatan wait and see, Johannes menyatakan keyakinannya bahwa BI dapat menjaga stabilitas inflasi. Ia juga menilai BI Rate masih berada pada level yang aman di tengah geliat perekonomian domestik, meski pergerakan ekonomi menghadapi fluktuasi yang cukup signifikan.
“Memang saat ini suku bunga cukup, secara kurva itu boleh dibilang agak lumayan sehat. Karena cukup banyak apa yang dijaga untuk memastikan bahwa ekonomi bisa bergerak dengan reasonable,” kata Johannes.
Ia turut menekankan pentingnya pengendalian nilai tukar dan berharap kondisi kembali normal. Johannes menambahkan, likuiditas pada dasarnya bergantung pada kondisi pasar.
Di sisi lain, OCBC telah menetapkan laba bersih perseroan untuk tahun buku 2025 sebesar Rp5,06 triliun. Dari jumlah tersebut, Rp1,03 triliun dialokasikan sebagai dividen tunai atau Rp45 per lembar, Rp1 miliar disisihkan sebagai cadangan umum, dan sisanya ditetapkan sebagai laba ditahan.