BERITA TERKINI
Novel “MeloDylan” dan Rumitnya Cinta Segi Empat Masa SMA

Novel “MeloDylan” dan Rumitnya Cinta Segi Empat Masa SMA

Novel MeloDylan karya Asri Aci (Asriaci) menempatkan kisah romansa remaja sebagai pusat cerita, dengan dinamika hubungan empat tokoh yang saling terkait. Buku ini diterbitkan Coconuts Book pada 30 April 2017, disunting Cristiano Prianto, dengan desain sampul dan penataan isi oleh Coconut Design. MeloDylan berbahasa Indonesia dan memiliki ISBN 978-602-6940-67-4.

Sebelum terbit dalam bentuk buku, MeloDylan lebih dulu dikenal sebagai cerita di Wattpad. Karya tersebut disebut telah dibaca lebih dari 20 juta kali, sempat menempati peringkat pertama kategori teen fiction pada 15 Februari 2017, dan kemudian dibukukan. Versi cetaknya juga disebut menjadi salah satu buku nasional yang berstatus best seller.

Dari sisi cerita, MeloDylan mengikuti perjalanan Melody, siswi SMA yang baru pindah sekolah karena pengalaman buruk di sekolah lama. Harapannya untuk memulai hidup yang lebih baik justru berbelok ketika ia bertemu Dylan, kakak kelas yang dikenal nakal, populer, dan berparas tampan, namun juga digambarkan pintar. Pertemuan keduanya terjadi dalam situasi tak terduga yang membuat mereka harus berinteraksi, lalu menjadi awal rangkaian peristiwa berikutnya.

Relasi Melody dan Dylan berkembang di tengah tekanan sosial di sekolah, termasuk kecemburuan para penggemar Dylan. Situasi kian rumit karena Dylan memiliki sahabat sejak kecil bernama Bella, yang disebut mengidap penyakit berat sehingga membuat Dylan sangat protektif. Dylan menyukai Bella, sementara Bella menyukai Fathur—yang juga merupakan sahabat Dylan meski hubungan mereka kemudian berselisih. Fathur pada awalnya menyukai Bella, tetapi tidak mengambil kesempatan karena tidak ingin menyakiti perasaan Dylan. Dalam perkembangan cerita, Dylan dan Fathur kembali menyukai orang yang sama, kali ini Melody.

Melody digambarkan semula enggan memulai hubungan karena trauma masa lalu dengan mantannya. Namun, sikap Dylan membuatnya terbawa perasaan dan akhirnya menyukai Dylan. Hubungan keduanya berjalan beberapa bulan, tetapi perhatian Dylan yang besar pada kesehatan Bella memicu ketegangan. Ketika Melody membutuhkan tempat bercerita, ia memilih Fathur yang dianggap bisa diandalkan. Kesalahpahaman dari situ berujung pertengkaran besar dan membuat Melody serta Dylan berpisah, meski keduanya masih menyimpan perasaan.

Menjelang Dylan berkuliah di luar negeri, keduanya kembali bertemu dalam sebuah pertemuan perpisahan. Melody menyampaikan bahwa ia belum bisa melupakan Dylan, dan Dylan merasakan hal serupa. Dylan menyatakan keyakinan bahwa jika kelak mereka bertemu lagi dan perasaan itu masih sama, ia akan menganggapnya sebagai takdir. Melody pun berterima kasih atas kenangan yang ia sebut tak terlupakan, meski kebahagiaan itu hanya sesaat.

Dalam penilaian unsur intrinsik, MeloDylan diposisikan sebagai novel romantis bertema rumitnya percintaan masa SMA, dengan konflik utama berupa cinta segi empat. Empat tokoh—Melody, Dylan, Bella, dan Fathur—mendominasi jalannya cerita dan menjadi penggerak konflik.

Karakter Melody digambarkan sebagai protagonis: cantik, manis, dan pendek, dengan sifat polos, lugu, “lemot”, dan berpendirian teguh. Ia disebut sebagai tokoh statis karena sifatnya dinilai konsisten dari awal hingga akhir. Dylan digambarkan memiliki dua sisi: dikenal nakal dan cuek, namun juga peduli, tulus, dan setia. Tokoh ini disebut berkembang, dengan perubahan yang terlihat setelah berpacaran dengan Melody, termasuk penilaian bahwa Melody membuat Dylan “gak nakal lagi”.

Bella digambarkan cantik, dengan sifat yang dapat tampil antagonis maupun protagonis: egois dan iri di satu sisi, tetapi juga pengertian, dewasa, tenang, dan peduli. Ia disebut sebagai tokoh statis. Sementara Fathur digambarkan tampan, ramah, baik, dan tidak sombong, serta diposisikan sebagai protagonis dengan watak yang relatif tidak berubah.

Dari segi penceritaan, novel ini menggunakan alur maju dengan peristiwa yang disusun kronologis dari awal hingga akhir. Sudut pandang yang digunakan adalah orang ketiga, ditandai dengan penggunaan nama tokoh alih-alih “aku” atau “saya”. Latar tempat yang sering muncul adalah sekolah dan rumah sakit, sementara latar waktu tidak selalu dirinci, meski ada beberapa penanda jam dalam cerita.

Gaya bahasa yang digunakan cenderung sehari-hari dan disertai bahasa gaul yang lekat dengan percakapan murid SMA, termasuk penggunaan kata seperti “lo”, “gue”, “baper”, dan “modus”, serta beberapa serapan bahasa Inggris seperti read, chat, truth, dare, dan love you. Catatan lain menyebut adanya beberapa adegan kekerasan dan kata kasar yang digunakan sebagai umpatan untuk mengekspresikan marah atau kesal.

Penulis memberikan batasan usia pembaca 15+. Rekomendasi tersebut dikaitkan dengan konteks cerita yang berfokus pada relasi romantis dan problematika khas masa SMA, mulai dari cinta bertepuk sebelah tangan hingga konflik pertemanan dan perasaan yang tidak selalu berjalan sesuai keinginan tokohnya.