Novel Balada Si Roy karya Gol A Gong mengangkat cerita remaja dengan latar kehidupan anak SMA pada era 1980-an. Tokoh utamanya, Roy, digambarkan sebagai sosok yang kerap menjadi pusat perhatian. Ia datang ke sekolah dengan sepeda balap dan ditemani anjing herder bernama Joe, yang setia dan seolah melindunginya dari bahaya.
Roy disebut memiliki penampilan yang menonjol: jangkung, atletis, dan tampan tanpa kesan berlebihan. Sikapnya juga digambarkan khas—senyumnya memikat, namun ia tetap bandel dan berkesan berandal. Di lingkungan pergaulan, Roy menghadapi berbagai persoalan yang lazim dialami anak muda, mulai dari cinta, persahabatan, hingga permusuhan.
Konflik Roy tidak berhenti pada dinamika pergaulan. Ketika ia dihantam rasa kehilangan yang mendalam, Roy dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit: terpuruk meratapi nasib, melarikan diri pada hal-hal terlarang, atau bangkit dan membuktikan dirinya sebagai “lelaki sejati”.
Dari sisi tema, Balada Si Roy menyoroti gejolak anak muda yang sedang mencari jati diri dan cinta. Cerita ini diposisikan sebagai petualangan seorang anak SMA yang berhadapan dengan berbagai permasalahan hidup pada masanya.
Penulis novel ini adalah Heri Hendrayana, yang lebih dikenal dengan nama pena Gol A Gong. Ia lahir di Purwakarta (Solo) pada 15 Agustus 1963. Dalam biografinya disebutkan Gol A Gong telah menulis 125 buku yang mencakup puisi, cerita pendek, esai, serta skenario televisi. Pada usia 11 tahun, ia kehilangan tangan kirinya.
Selain menulis, Gol A Gong memiliki pengalaman di dunia media dan kreatif. Ia pernah bekerja sebagai wartawan di majalah HAI dan Tabloid Pramuka pada 1989–1990, penulis skenario TV di ANTEVE (1993) dan Indosiar (1995), senior kreatif di RCTI (1996–2008), serta asisten manajer di Banten TV.
Pada 1998, ia mendirikan Komunitas Literasi Rumah Dunia di Serang, Banten, yang disebut sebagai pusat belajar jurnalistik, sastra, film, teater, dan seni lukis bagi anak-anak, pelajar, dan mahasiswa secara gratis. Dalam catatan prestasinya, Gol A Gong menerima sejumlah penghargaan, di antaranya Anugerah “Tokoh Sastra” dari Majalah Horison dan Penerbit Balai Pustaka pada perayaan “Hari Puisi Indonesia” (3 Juli 2013), Anugerah Peduli Pendidikan (Kemdikbud, 2012), National Literacy Prize (Kemdikbud, 2010), Indonesia Berpesta si Award (XL, 2008), serta Pustaloka Nusa Jasadharma (Perpusnas, 2006). Buku puisinya Air Mata Kopi (Gramedia, 2014) juga disebut masuk 10 besar “Hari Indonesia 2014”.
Saat ini, ia tercatat sebagai penasihat Forum Taman Bacaan Masyarakat se-Indonesia, dewan pembina komunitas penulis Forum Lingkar Pena, serta pendiri Rumah Dunia.

