BERITA TERKINI
NATO Nilai Kesiapan Arktik Lebih Banyak Ditopang Sekutu Eropa, Pasukan AS Disebut Masih Terbatas

NATO Nilai Kesiapan Arktik Lebih Banyak Ditopang Sekutu Eropa, Pasukan AS Disebut Masih Terbatas

BRUSSELS — Pejabat pertahanan NATO mengonfirmasi bahwa tanggung jawab utama operasi militer di kawasan Arktik saat ini lebih banyak dipikul sekutu Eropa, terutama Inggris dan negara-negara Skandinavia. Penilaian tersebut muncul karena Amerika Serikat dinilai masih kekurangan kekuatan dan pengalaman untuk menjalankan aktivitas berkelanjutan di Kutub Utara.

Menurut para pejabat, evaluasi internal NATO dan hasil latihan gabungan terbaru menunjukkan kemampuan kesiapan Arktik lebih terkonsentrasi di Eropa. Pasukan dari Inggris, Norwegia, Finlandia, dan Swedia disebut menjadi unit yang paling siap untuk beroperasi di medan sangat dingin dan tertutup es, sementara kemampuan pasukan AS masih terbatas dari sisi peralatan maupun pelatihan.

Salah satu contoh yang disorot adalah latihan gabungan Viking tahun lalu di Norwegia utara. Seorang sumber militer menyebut, dalam latihan tersebut pasukan Amerika mengalami kesulitan beroperasi secara efektif dalam kondisi Arktik sehingga komandan latihan harus turun tangan.

“Para komandan latihan harus meminta pasukan cadangan Finlandia, para pejuang Arktik paling tangguh, yang berperan sebagai penyerbu dalam latihan perang, untuk tidak terlalu agresif terhadap Amerika,” kata sumber tersebut. “Orang Finlandia harus diberi tahu untuk berhenti memukuli Amerika karena itu memalukan dan menurunkan moral mereka.”

Latihan itu melibatkan unit darat, udara, dan maritim NATO dalam suhu di bawah nol, salju tebal, serta cahaya matahari terbatas—kondisi yang dinilai mencerminkan skenario nyata di Arktik. Pasukan cadangan Finlandia, yang terbiasa berlatih di lingkungan tersebut, disebut mengungguli unit AS dalam mobilitas, daya tahan, dan koordinasi taktis.

Selain aspek personel, para pejabat juga menyebut Amerika Serikat bergantung pada Finlandia untuk teknologi pemecah es canggih yang penting bagi operasi di perairan beku. Angkatan laut Eropa—khususnya Finlandia dan Norwegia—dinilai memiliki armada yang mampu beroperasi di perairan es serta pengetahuan operasional selama beberapa dekade, yang belum dimiliki AS dalam skala besar.

“Orang Eropa memiliki keahlian dan pengalaman,” kata seorang sumber militer. “Jika Trump ingin membela wilayah tersebut, dia melakukan kesalahan dengan membuat sekutu Arktiknya marah.”

Di sisi lain, Inggris disebut memainkan peran sentral dalam postur Arktik NATO. Angkatan Laut Kerajaan menyediakan patroli kapal selam, pengawasan maritim, serta pengalaman operasi di bawah es yang dibangun sejak era Perang Dingin dan setelahnya. Inggris juga mengoperasikan pesawat patroli maritim P-8 Poseidon yang dioptimalkan untuk pelacakan kapal selam di Atlantik Utara dan Kutub Utara.

Negara-negara Skandinavia disebut menjadi tulang punggung kemampuan darat dan laut NATO di Arktik. Norwegia rutin menyelenggarakan latihan cuaca dingin, Finlandia menyediakan keahlian pemecah es dan pasukan darat Arktik, sementara Swedia menyumbangkan unit udara dan angkatan laut yang disesuaikan untuk operasi di lingkungan beku. Kombinasi kemampuan ini disebut membentuk garis pertahanan utama aliansi di kawasan tersebut.

Jenderal Sir James Everard, mantan wakil komandan tertinggi sekutu di Eropa, menyatakan Greenland dan Arktik yang lebih luas seharusnya tidak dipandang sebagai krisis militer mendesak, melainkan zona persaingan strategis jangka panjang.

“Saya rasa ancaman bukanlah kata yang tepat,” kata Everard. “Tidak ada ancaman militer langsung, tetapi Greenland kaya akan mineral. Semua orang menginginkan bagian dari kue tersebut, jadi ada risiko keamanan dan komersial jangka panjang yang perlu dikelola. NATO memiliki strategi pengerahan pasukan yang baik yang dapat diperluas sesuai kebutuhan, tetapi Anda perlu menyepakati peran dan tujuannya.”

Para perencana NATO kini meninjau cara pengerahan pasukan yang dipimpin Eropa di seluruh Arktik, termasuk opsi memperluas pengawasan udara, patroli maritim, dan kehadiran angkatan laut di sekitar Greenland serta jalur utara menuju Atlantik. Namun, para pejabat menekankan penyesuaian itu tetap membutuhkan kesepakatan politik terkait prioritas dan pembagian tanggung jawab komando.

Dalam dokumen perencanaan pertahanan, Amerika Serikat secara historis lebih berfokus pada Indo-Pasifik dan sayap timur Eropa, sehingga pengembangan kemampuan Arktik banyak diserahkan kepada sekutu yang memiliki pengalaman regional. Para pejabat menilai pola ini menciptakan ketergantungan yang kini semakin terlihat seiring meluasnya akses ke Arktik akibat perubahan iklim dan meningkatnya aktivitas komersial.