Musyawarah Nasional (Munas) X LDII 2026 menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis yang menyoroti penguatan kedaulatan nasional di tengah ketidakpastian geopolitik dan tekanan kapitalisme global. Dalam rekomendasi tersebut, LDII menyatakan posisinya sebagai mitra strategis pemerintah untuk menjaga kedaulatan NKRI melalui penguatan internal umat serta dorongan inovasi teknologi.
Ketua Umum DPP LDII, Dody Taufiq Wijaya, mengatakan organisasi kemasyarakatan memiliki tanggung jawab menjaga stabilitas nasional di atas kepentingan politik praktis. Ia menegaskan LDII memandang ormas harus berperan sebagai kekuatan moral bangsa dan berkomitmen aktif mencegah berkembangnya paham radikalisme serta disintegrasi yang dapat memecah persatuan.
Dody juga menyoroti meningkatnya intervensi kekuatan global melalui jalur ekonomi, informasi, hingga jaringan sosial. Menurutnya, Munas X LDII menuntut ketegasan sikap nasional, termasuk penolakan terhadap segala bentuk intervensi asing yang merugikan kepentingan Indonesia. Ia menyerukan kemandirian di sektor-sektor vital, mulai dari ekonomi, pangan, hingga energi, serta mengingatkan agar Indonesia tidak bergantung secara berlebihan pada sistem global yang dinilai dapat melemahkan posisi tawar negara.
Dalam bidang energi, Munas X LDII merekomendasikan dukungan terhadap Energi Baru dan Terbarukan (EBET) sebagai bagian dari transisi dari energi berbasis karbon menuju energi bersih yang andal. LDII mendorong pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Selain EBET, LDII juga merekomendasikan penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dengan teknologi Small Modular Reactor (SMR). Teknologi ini dinilai efisien dan aman, serta disebut mampu menjangkau wilayah pelosok untuk menggantikan PLTD agar masyarakat memperoleh akses listrik yang lebih murah dan andal.
Di sektor pangan, LDII meluncurkan program “Ketahanan Pangan dan Lingkungan” yang melibatkan generasi muda di pondok pesantren dan sekolah untuk terjun langsung dalam produksi tanaman pangan. Program tersebut dikaitkan dengan upaya merespons ancaman krisis pangan akibat gangguan logistik global, seperti yang dapat terjadi di Terusan Suez dan Selat Hormuz.
Dody turut menekankan pentingnya pembangunan sumber daya manusia. Menurutnya, pembangunan SDM tidak cukup hanya mengejar kecerdasan teknokratis, tetapi juga harus membentuk karakter kuat, berakhlakul karimah, berintegritas, serta memiliki kesadaran kebangsaan yang kokoh.
Dalam rekomendasi penutup, LDII menilai kebudayaan sebagai benteng terakhir identitas bangsa di tengah arus globalisasi. Pada ranah internasional, Indonesia didorong konsisten menjalankan politik luar negeri bebas aktif serta tetap berpegang pada Pancasila dan UUD 1945. Dody juga menyebut Indonesia perlu vokal memperjuangkan penghapusan segala bentuk penjajahan dan mengecam pelanggaran hukum internasional. Di saat yang sama, ia mendorong pemerintah memodernisasi alutsista dan teknologi militer dengan kekuatan mandiri untuk menjaga martabat bangsa.
Rangkaian rekomendasi Munas X LDII 2026 tersebut diharapkan menjadi pendorong transformasi Indonesia menuju bangsa yang lebih mandiri, religius, dan berdaulat di tengah persaingan global yang semakin kompleks.