Majelis Ukhuwah Pusat (MUP) menggelar mudzakarah atau seminar untuk memetakan langkah strategis umat dalam merespons eskalasi konflik global, khususnya agresi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Forum bertema “Kesiapsiagaan Umat Dalam Menghadapi Dinamika Konflik Global” itu berlangsung di Kampus STAI Al-Fatah Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (7/3/2026).
Amir Majelis Ukhuwah Pusat, H. Syakuri SH, menyatakan konflik di Timur Tengah berpotensi memicu dampak luas bagi stabilitas global maupun kehidupan umat Islam. Ia menilai umat perlu bersiap mengantisipasi kemungkinan terburuk dari perkembangan konflik tersebut.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah dilaporkan meningkat sejak akhir Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran. Dalam laporan yang disampaikan pada forum itu, serangan tersebut disebut menewaskan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan kemudian dibalas Iran dengan serangan rudal, sehingga memicu kekhawatiran meluasnya konflik regional.
Mudzakarah menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Imaam Yakhsyallah Mansur, Asep Faturrahman, Dr. Aat Surya Safaat, Rifa Berliana Arifin, serta Wawan Ruswandi. Para pembicara membahas isu dari berbagai sisi, mulai geopolitik global, hukum internasional, peran generasi muda, hingga ketahanan ekonomi dan pangan umat.
Imaam Yakhsyallah Mansur menyampaikan materi mengenai fenomena “manusia barbar dan negara barbar modern” untuk mengkaji perilaku negara kuat dalam konflik global yang dinilai kerap mengabaikan nilai kemanusiaan. Ia menyoroti praktik kekerasan yang dilakukan atas nama keamanan nasional atau kepentingan geopolitik, termasuk serangan militer, blokade ekonomi, dan tekanan politik, yang dampaknya dapat dirasakan warga sipil.
Dalam pandangannya, akar persoalan konflik berkaitan dengan penjajahan atas bangsa Palestina oleh Zionis Israel, sementara Iran disebut membela Palestina.
Asep Faturrahman menilai konflik Amerika Serikat–Israel versus Iran tidak terlepas dari kepentingan geopolitik global serta kondisi umat Islam yang masih terpecah. Ia menekankan pentingnya persatuan umat dan solidaritas antarnegara Muslim dalam menghadapi dinamika konflik global.
Sementara itu, Dr. Aat Surya Safaat menyampaikan bahwa agresi militer terhadap Iran merupakan pelanggaran prinsip-prinsip hukum internasional, termasuk larangan penggunaan kekuatan militer terhadap negara lain serta pelanggaran hukum humaniter yang melindungi warga sipil.
Forum tersebut juga menyampaikan sejumlah sikap, antara lain mengutuk agresi militer Amerika Serikat dan Israel serta menyerukan solidaritas global untuk menolak praktik militerisme dan standar ganda dalam penegakan hukum internasional. Peserta turut mendorong pemerintah Indonesia agar tetap konsisten menjalankan politik luar negeri bebas aktif.
Presidium Aqsa Working Group (AWG), Rifa Berliana Arifin, menekankan pentingnya peran generasi muda merespons isu global melalui peningkatan literasi geopolitik dan penggunaan media sosial secara bijak. Ia mendorong pemuda lebih kritis terhadap informasi serta lebih aktif dalam kegiatan kemanusiaan dan forum kajian yang membahas persoalan internasional dan peradaban umat.
Pada sesi terakhir, Wawan Ruswandi menyoroti kesiapsiagaan umat dari sisi ekonomi dan ketahanan pangan di tengah ketidakpastian global. Menurutnya, dampak konflik internasional sering kali pertama kali dirasakan melalui tekanan ekonomi dan kenaikan harga kebutuhan pokok. Ia menekankan penguatan ketahanan keluarga dan jamaah.
Wawan juga memaparkan konsep lima pilar ketahanan pangan keluarga Al-Jamaah, yakni kemandirian pangan rumah tangga, penguatan ekonomi keluarga, gotong royong jamaah, optimalisasi tanah wakaf secara produktif, serta pengembangan program wakaf produktif.
Mudzakarah ini diikuti sekitar 150 peserta secara luring dan daring melalui Zoom. Peserta berasal dari berbagai unsur, di antaranya pengurus Jama’ah Muslimin (Hizbullah) pusat dan wilayah, mahasiswa STAI Al-Fatah, Pengurus Pusat Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR), Presidium AWG, Maemuna Center, AFKADO, pimpinan Pondok Pesantren Al-Fatah, serta pengurus DKM At-Taqwa Cileungsi, Bogor.
Forum menyimpulkan bahwa konflik global tidak hanya berdampak pada aspek politik dan keamanan, tetapi juga pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Karena itu, umat Islam didorong memperkuat persatuan dalam Jama’ah, solidaritas, serta kemandirian ekonomi dan ketahanan pangan sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan krisis global.

