Harga minyak bergerak fluktuatif seiring perkembangan konflik di Timur Tengah, dengan sentimen pasar dipengaruhi oleh laporan terkait opsi militer Amerika Serikat dan risiko gangguan pasokan di kawasan. Pergerakan harga terjadi setelah sebelumnya muncul laporan mengenai persiapan Pentagon terhadap kemungkinan pengerahan pasukan darat AS ke Iran, meski disebut masih berupa opsi dan belum jelas dalam kondisi apa Presiden Donald Trump akan menyetujuinya.
Pejabat AS juga menyebut Gedung Putih mengirim ratusan marinir ke Timur Tengah, bersamaan dengan pertimbangan rencana untuk menguasai pusat ekspor minyak Pulau Kharg milik Iran. Namun, pengerahan pasukan darat—meski dalam jumlah kecil—dinilai membawa risiko besar bagi Trump dan berpotensi memicu pembalasan dari Teheran, termasuk serangan terhadap infrastruktur energi penting.
Harga turut bereaksi terhadap laporan yang menyebut pejabat Iran menjadi enggan membahas pembukaan kembali Selat Hormuz karena fokus bertahan dari serangan AS-Israel. Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak global.
Menurut Rebecca Babin dari CIBC Private Wealth, minyak menutup pekan yang kembali volatil dan dipicu oleh berbagai berita utama. Ia mengatakan penguatan menjelang akhir pekan terjadi saat trader mengurangi eksposur posisi short. Babin menambahkan, kenaikan mencerminkan retorika Iran yang semakin keras, bukti terbatas aliran melalui selat, serta laporan yang belum terkonfirmasi bahwa Pulau Kharg mungkin menjadi target di tengah peningkatan posisi militer di kawasan.
Di sisi pelaku pasar, investor disebut telah menumpuk taruhan pada kenaikan harga lebih lanjut. Data mingguan kontrak berjangka dan opsi menunjukkan manajer investasi meningkatkan posisi bullish pada kontrak minyak Brent di ICE Futures Europe sebesar 77.672 posisi net-long menjadi 428.704. Data hingga Selasa itu mencerminkan posisi bullish terkuat dalam lebih dari enam tahun.
Secara bulanan, patokan minyak global Brent crude dilaporkan telah melonjak hampir 50% seiring perang memasuki akhir pekan ketiga. Penutupan hampir total Selat Hormuz disebut membuat pasokan terjebak di Teluk Persia dan memaksa produsen utama OPEC untuk memangkas produksi.
Di tengah situasi tersebut, Iran melanjutkan serangan terhadap negara-negara tetangga di Teluk. Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan tidak akan menargetkan fasilitas energi Republik Islam. Presiden AS Donald Trump disebut berupaya meredakan serangan terhadap aset minyak dan gas alam, sekaligus kembali mengkritik sekutu North Atlantic Treaty Organization karena tidak ikut dalam perang melawan Iran atau membantu membuka blokade Selat Hormuz.
Serangan terhadap ladang gas South Pars di Iran pada awal pekan ini diikuti pembalasan Teheran terhadap sejumlah fasilitas penting di kawasan. Rangkaian serangan tersebut mendorong harga minyak mentah dan gas alam Eropa melonjak, sementara para pejabat berupaya menahan dampaknya.
Pada perdagangan terbaru yang disebut dalam laporan, Brent untuk pengiriman Mei naik 3,3% menjadi US$112,19 per barel, tertinggi sejak Juli 2022. Minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik 2,8% menjadi US$98,23 per barel. Sementara kontrak April yang kurang aktif dan berakhir pada Jumat naik 2,3% menjadi US$98,32 per barel.

