Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa angkat bicara mengenai pelemahan nilai tukar rupiah dan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa waktu terakhir. Pemerintah menegaskan kondisi ekonomi nasional masih berada dalam fase ekspansi dan belum mengarah pada krisis.
Purbaya mengatakan kekhawatiran pasar turut dipicu oleh sejumlah proyeksi ekonomi yang beredar di kalangan investor dan ekonom, yang kemudian memberi tekanan terhadap rupiah. Ia menepis pandangan yang menyebut Indonesia mengalami resesi seperti 1998.
“Sebagian teman-teman ekonom bilang kita sudah resesi, seperti 1998 lagi. Disebut daya beli sudah hancur, tidak seperti itu,” kata Purbaya kepada wartawan saat kunjungan ke Pasar Tanah Abang, Senin (9/3/2026).
Menurut Purbaya, kondisi ekonomi saat ini belum menunjukkan tanda perlambatan signifikan. Ia menegaskan Indonesia bahkan masih berada pada jalur ekspansi.
“Resesi saja belum. Melambatnya saja belum, kita masih ekspansi, masih akselerasi,” ujarnya.
Purbaya menyatakan pemerintah akan terus menjaga stabilitas ekonomi nasional dalam beberapa pekan ke depan untuk meredam gejolak pasar dan menjaga kepercayaan investor. Ia juga mengingatkan Indonesia memiliki pengalaman menghadapi berbagai krisis, mulai dari Krisis Finansial Asia 1998, Krisis Keuangan Global 2008–2009, hingga pandemi COVID-19 pada 2020.
“Kita sudah tahu krisis 1998 penyebabnya. Kita juga menerapkan kebijakan pada 2008–2009. Ketika global jatuh, kita masih bisa tumbuh dengan baik. Tahun 2020 juga kita jaga ekonominya dengan kebijakan yang tepat,” kata Purbaya.
Karena itu, ia meminta pelaku pasar dan investor tidak berlebihan merespons dinamika ekonomi global. “Teman-teman tidak usah takut. Kita sudah punya pengalaman dan pengetahuan yang cukup untuk memitigasi gejolak yang terjadi,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Purbaya menilai daya beli masyarakat masih terjaga. Ia merujuk pada aktivitas perdagangan yang tetap ramai saat dirinya mengunjungi Pasar Tanah Abang.
“Ternyata betul, daya beli masih ada. Orang masih belanja, pasar juga masih ramai,” katanya. Menurutnya, keramaian pasar menunjukkan konsumsi masyarakat masih berlangsung dengan baik. “Artinya di sekitar kita banyak orang yang sedang berbelanja. Jadi daya beli masyarakat sepertinya masih baik dan kita tidak resesi,” ujarnya.
Adapun pada perdagangan pasar spot Senin (9/3/2026) pukul 14.10 WIB, rupiah berada di level Rp16.958 per dolar AS. Nilai tersebut melemah tipis sekitar 0,05% dibandingkan penutupan akhir pekan sebelumnya.
Meski melemah, pergerakan rupiah dinilai relatif terbatas. Pada hari itu, rupiah tercatat menjadi mata uang dengan kinerja terbaik kedua di Asia, berada di bawah dolar Hong Kong yang menguat sekitar 0,1%.
Pemerintah menilai fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dan stabilitas makroekonomi tetap terjaga di tengah dinamika pasar global.

