Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap isi pembahasan yang ia dengar saat menghadiri rangkaian pertemuan IMF dan Bank Dunia di Amerika Serikat. Dalam salah satu sesi, ia menyebut Menteri Keuangan Amerika memaparkan strategi yang akan ditempuh untuk mencapai perdamaian dengan Iran.
Namun, Purbaya menilai pendekatan yang disampaikan cenderung sepihak. Ia mengatakan proposal tersebut seolah memperlakukan Iran sebagai pihak yang sudah kalah perang, padahal menurut perhitungannya Iran belum berada pada posisi itu.
“Waktu saya di IMF-World Bank, ada sesi Menteri Keuangan Amerika menceritakan strategi yang akan mereka lakukan untuk mencapai perdamaian dengan Iran. Tapi kalau saya lihat, isinya sepihak,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita, Selasa (5/5/2026).
Ia menambahkan, “Seolah-olah Iran diperlakukan sebagai pihak yang kalah perang dengan tuntutan Amerika yang tegas ini, ini, ini.”
Menurut Purbaya, jika sebuah kesepakatan dirancang dengan asumsi Iran telah kalah, peluang tercapainya perjanjian menjadi kecil. Karena itu, ia mengingatkan pemerintah perlu bersiap menghadapi dampak konflik yang berlarut.
“Hitungan saya, kan belum kalah perang, jadi pasti tidak akan tercapai perjanjian itu. Jadi kita mesti siap dengan konflik berkepanjangan dan harga minyak yang masih akan bertahan cukup lama,” kata Purbaya.
Purbaya juga menilai dampak perang Iran melawan Israel dan Amerika Serikat berpotensi berlangsung panjang, termasuk terhadap stabilitas harga minyak.