Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menilai kerja sama bidang kesehatan antara Indonesia dan China telah mencakup berbagai sektor dan bergerak ke arah yang tepat, sehingga membuka prospek luas untuk kolaborasi lanjutan di masa mendatang.
Dalam wawancara dengan Xinhua, Budi mengatakan kedua negara telah menjalin kerja sama selama bertahun-tahun. Ruang lingkupnya, menurut dia, mencakup hampir semua aspek, mulai dari layanan klinis, manajemen klinis, kecerdasan buatan (AI), hingga bioteknologi.
Budi menyampaikan, saat berkunjung ke China pada Maret lalu, kedua pihak membahas pendalaman kerja sama di sejumlah bidang, termasuk kesehatan digital dan pintar serta penguatan sumber daya manusia.
Ia menekankan bahwa kerja sama tidak hanya menyangkut pengadaan peralatan dan teknologi medis, tetapi juga peningkatan kapasitas layanan kesehatan, terutama melalui pelatihan tenaga medis. Salah satu contohnya adalah dokter spesialis jantung Indonesia yang mengikuti pelatihan kardiologi intervensi di beberapa rumah sakit di China.
Menurut Budi, Indonesia tengah memperluas layanan gawat darurat jantung ke lebih banyak kota dengan membangun laboratorium kateterisasi. Namun, perluasan tersebut juga membutuhkan dokter dengan keterampilan khusus untuk mengoperasikan peralatan dan melakukan prosedur.
Ia menyebut sebagian dokter yang menjalani pelatihan di China telah kembali ke Indonesia dan kini mampu melakukan prosedur yang berpotensi menyelamatkan nyawa.
Selain pelatihan, Budi menyoroti teknologi medis canggih sebagai bidang kerja sama penting lainnya, termasuk bioteknologi, AI, dan robotika. Ia menilai kolaborasi di bidang-bidang tersebut, bersama pengembangan talenta medis, dapat memberi manfaat lebih besar bagi sistem layanan kesehatan Indonesia.
Terkait pemanfaatan AI, Budi mengatakan ia melihat China telah mengadopsi teknologi itu dalam sistem perawatan kesehatan nasionalnya. Menurutnya, penerapan AI dalam layanan kesehatan sangat luas, mulai dari pengembangan obat dan prosedur klinis hingga efisiensi administratif.
Ia mencontohkan penggunaan AI untuk deteksi tuberkulosis (TB) berbantuan sinar-X digital serta penerapan sistem rekam medis otomatis. Budi menilai AI dapat membantu meningkatkan kapasitas dan pengetahuan dokter. Meski demikian, ia menegaskan AI tidak akan menggantikan tenaga medis, namun dokter yang menggunakan AI berpotensi menggantikan dokter yang tidak menggunakan AI.
Di luar teknologi, Budi juga menyebut kesehatan masyarakat sebagai area kerja sama bilateral, terutama dalam pengendalian TB. Ia menilai China telah mencatat kemajuan signifikan dalam menurunkan angka kejadian TB meski memiliki populasi yang besar.
Budi mengaitkan capaian tersebut dengan sistem pemantauan penyakit yang kuat dan strategi pengobatan yang efektif, yang ingin dipelajari Indonesia. Ke depan, ia menyatakan kolaborasi berkelanjutan dengan China—antara lain di bidang AI, bioteknologi, dan pelatihan medis—dapat mendukung pengembangan layanan kesehatan yang tidak hanya berfokus pada penyembuhan penyakit, tetapi juga pada upaya menjaga kesehatan masyarakat.