JAKARTA — Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan ketergantungan Indonesia terhadap impor avtur masih sangat tinggi. Kondisi tersebut membuat sektor penerbangan nasional rentan terdampak dinamika geopolitik global, khususnya konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah.
Dudy menyebut avtur merupakan salah satu komponen biaya terbesar dalam industri penerbangan. Karena itu, sektor ini dinilai sangat sensitif terhadap fluktuasi harga energi di pasar global.
“Avtur kita sangat tergantung dengan impor, jadi kalau seperti sekarang misalnya yang jadi krisis di Timur Tengah itu berpengaruh, bahkan kita akan langsung terasa terdampak. Alhamdulillah sampai Lebaran nanti cadangan avtur kita masih cukup,” kata Dudy di Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Ia menjelaskan, biaya bahan bakar menyumbang porsi besar dalam struktur biaya maskapai penerbangan, yakni sekitar 27 persen dari total biaya operasional. “Dari komponen biaya itu avtur memakan sekitar 27,6 persen. Jadi cukup tinggi dan sangat volatile, sangat tergantung dengan kondisi global,” ujarnya.
Selain avtur, Dudy juga menyoroti biaya perawatan pesawat sebagai komponen besar lainnya. Ia menyatakan sebagian besar suku cadang pesawat masih bergantung pada produk luar negeri sehingga turut memengaruhi biaya operasional maskapai. “Maintenance itu sekitar 20 persen dari total biaya. Sebagian besar sparepart kita juga masih impor, jadi kita sangat terpengaruh oleh kondisi luar,” jelasnya.
Menurut Dudy, situasi global saat ini menjadi pelajaran penting bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi dan meningkatkan kemandirian dalam penyediaan kebutuhan strategis, termasuk bahan bakar penerbangan. Ia menekankan, perhatian ke depan tidak hanya pada upaya mencari tiket murah, tetapi juga pada kemampuan menyediakan kebutuhan energi secara mandiri agar tidak terlalu bergantung pada pihak luar.
Dudy menambahkan, pemerintah, termasuk Presiden, telah membahas pentingnya memperkuat ketahanan energi nasional agar dampak konflik global tidak terlalu besar terhadap perekonomian dalam negeri. “Konflik-konflik di luar itu sangat memengaruhi kita. Ini mengajarkan bahwa kita memang harus punya ketahanan, termasuk ketahanan energi,” tegasnya.

