BERITA TERKINI
Mengenal Unsur Intrinsik Novel “Orang-orang Biasa” Karya Andrea Hirata

Mengenal Unsur Intrinsik Novel “Orang-orang Biasa” Karya Andrea Hirata

Sebuah tulisan analisis membahas unsur-unsur intrinsik novel Orang-orang Biasa karya Andrea Hirata. Novel ini diterbitkan Bentang Pustaka dengan ketebalan 306 halaman dan berukuran 13,5 cm x 20 cm. Buku tersebut tercatat memiliki ISBN 978-602-291-685-7 serta beberapa kali cetak ulang sejak cetakan pertama pada Februari 2019.

Dalam bagian profil penulis, Andrea Hirata disebut lahir di Gantung, Belitung, dan tumbuh dalam keluarga miskin di sekitar kawasan tambang timah. Ia menempuh pendidikan tinggi di Universitas Indonesia dan kemudian melanjutkan studi magister di Eropa, yakni di Universitas Paris dan Universitas Sheffield Hallam di Inggris. Andrea Hirata juga dikenal merilis novel Laskar Pelangi pada 2005 yang berangkat dari pengalaman masa kecilnya di Belitung.

Analisis tersebut menempatkan tema novel Orang-orang Biasa pada kisah Kota Belantik yang digambarkan memiliki sedikit kejahatan, serta perjuangan “10 sekawan” yang berhadapan dengan tindakan Trio Bastardin dan Duo Boron. Dalam cerita, Inspektur Abdul Rojali bersama Sersan P. Arbi menjadi tokoh aparat yang berusaha mengungkap rangkaian peristiwa yang terjadi.

Dari sisi alur, novel dinilai menggunakan alur campuran, yakni gabungan alur maju dan alur mundur. Cerita disebut disajikan secara berurutan pada bagian awal, lalu kembali menyinggung peristiwa masa lalu. Salah satu cuplikan yang diangkat dalam analisis menggambarkan kehidupan Dinah dan putrinya, Aini, yang kesulitan dalam pendidikan, termasuk pengalaman menghadapi pelajaran Matematika di sekolah.

Latar tempat yang dicatat dalam analisis mencakup sejumlah lokasi di Kota Belantik, antara lain kantor polisi, Toko Batu Mulia, beberapa warung kopi (Kupi Kuli, Maryati Kawin Lagi, dan Usah Kau Kenang Lagi), pelabuhan, ruang kelas, bank, serta koperasi. Sementara itu, latar waktu disebut antara lain pada Jumat pukul 06.30, pukul 15.00, pukul 15.47, pukul 16.55, serta Sabtu pukul 05.00. Adapun latar suasana yang ditonjolkan meliputi suasana menegangkan, panik, menyedihkan, dan sepi, yang diperkuat melalui kutipan peristiwa dalam cerita.

Analisis juga merinci tokoh dan penokohan. Inspektur Abdul Rojali digambarkan bertanggung jawab, berani, cerdik, jujur, dan jenaka. Sersan P. Arbi disebut patuh dan setia. Ibu Desi Mal ditampilkan sebagai guru Matematika yang sabar namun tegas dan keras. Tokoh lain yang disebut antara lain Honorun, Salud, Tohirin, Junilah, Nihe, Dinah, Debut, Rusip, Handai, Sobri, Trio Bastardin (Bastardin, Jamin, Tarib), Duo Boron (Boron, Bandar), serta Aini yang digambarkan tekun dan tidak mudah menyerah.

Dari segi sudut pandang, novel ini dinilai menggunakan sudut pandang orang ketiga, dengan pencerita yang menyebut tokoh sebagai “dia/ia” atau nama tokoh, serta mengetahui rangkaian pengalaman para karakter.

Pada bagian amanat, analisis menyimpulkan beberapa pesan yang dapat ditarik dari cerita. Di antaranya, pentingnya menolong demi tujuan yang mulia, terus berusaha dan tidak menyerah untuk mencapai cita-cita, serta peringatan agar tidak menempuh kejahatan meski berada dalam kondisi sulit. Selain itu, ditegaskan pula gagasan bahwa kejahatan yang ditutupi pada akhirnya dapat terungkap, sebagaimana digambarkan melalui tindakan Trio Bastardin dan Duo Boron dalam cerita.