Novel Orang-orang Biasa karya Andrea Hirata memotret kehidupan di Kota Belantik—sebuah kota yang digambarkan memiliki tingkat kejahatan rendah—namun kemudian diwarnai rangkaian peristiwa yang menyeret banyak tokoh. Cerita turut menyoroti perjuangan sekelompok orang dalam menghadapi persoalan hidup, termasuk upaya mengungkap kejahatan yang dikaitkan dengan Trio Bastardin dan Duo Boron, serta dinamika yang melibatkan Inspektur Abdul Rojali dan Sersan P. Arbi.
Dari sisi penerbitan, novel ini diterbitkan Bentang Pustaka dengan ketebalan 306 halaman dan ber-ISBN 978-602-291-685-7. Buku ini tercatat terbit cetakan pertama pada Februari 2019, disusul cetakan berikutnya pada Januari 2020, November 2021, Maret 2021, dan September 2021.
Andrea Hirata disebut lahir di Gantung, Belitung, dan tumbuh dalam keluarga sederhana di sekitar kawasan tambang timah. Ia menempuh pendidikan tinggi di Universitas Indonesia pada bidang ekonomi, kemudian melanjutkan studi master di Eropa setelah menerima beasiswa Uni Eropa, termasuk di Universitas Paris dan Universitas Sheffield Hallam di Inggris. Ia juga dikenal merilis novel Laskar Pelangi pada 2005 yang ditulis berdasarkan pengalaman masa kecilnya di Belitung.
Secara intrinsik, tema utama novel ini mengarah pada gambaran kehidupan masyarakat biasa di Belantik, disertai perjuangan dan upaya pembuktian terhadap kejahatan yang terjadi. Cerita menempatkan sejumlah tokoh dalam situasi yang menguji moral, keteguhan, dan pilihan hidup mereka.
Dari segi alur, novel ini menggunakan alur campuran, yakni perpaduan alur maju dan alur mundur. Pada bagian awal, cerita disajikan secara berurutan, kemudian bergerak dengan kilas balik untuk menjelaskan latar pengalaman tokoh. Salah satu bagian yang dikutip menggambarkan kondisi Dinah dan anaknya, Aini, yang mengalami kesulitan dalam pendidikan dan dibayangi pesimisme akibat keterbatasan serta pengalaman buruk di sekolah.
Latar tempat dalam cerita berpusat di Kota Belantik, dengan sejumlah lokasi yang disebutkan antara lain kantor polisi, Toko Batu Mulia, warung kopi (termasuk Warung Kopi Kuli dan Warung Kopi Maryati Kawin Lagi), pelabuhan, ruang kelas, bank, serta koperasi simpan pinjam. Latar waktu ditandai secara spesifik dalam beberapa bagian, misalnya Jumat pukul 06.30, pukul 15.00, pukul 15.47, pukul 16.55, serta Sabtu pukul 05.00. Adapun latar suasana yang muncul mencakup ketegangan, kepanikan, kesedihan, hingga kesunyian, yang ditopang oleh peristiwa-peristiwa seperti latihan penyergapan, dugaan perampokan, hingga momen perpisahan dalam keluarga.
Tokoh-tokoh yang menonjol antara lain Inspektur Abdul Rojali yang digambarkan bertanggung jawab, berani, cerdik, jujur, dan jenaka; serta Sersan P. Arbi yang disebut patuh dan setia. Ada pula Ibu Desi Mal, guru Matematika yang tegas dan keras, serta sejumlah tokoh lain seperti Honorun, Salud, Tohirin, Junilah, Nihe, Dinah, Debut, Rusip, Handai, Sobri, Trio Bastardin, Duo Boron, dan Aini. Dinah digambarkan sebagai pedagang kaki lima yang bekerja keras namun pesimis terhadap pendidikan, sementara Aini disebut tekun dan tidak mudah menyerah.
Sudut pandang yang digunakan adalah orang ketiga, dengan pencerita yang menyebut tokoh melalui “dia/ia” atau nama tokoh, serta mengetahui kejadian yang dialami para karakter.
Melalui rangkaian peristiwa dan tokoh-tokohnya, novel ini memuat beberapa amanat, antara lain pentingnya menolong demi tujuan yang mulia, ketekunan dan sikap pantang menyerah dalam memperjuangkan keinginan, serta peringatan bahwa tindakan kriminal tidak menjamin kehidupan menjadi lebih baik. Selain itu, cerita juga menekankan gagasan bahwa kejahatan yang ditutupi pada akhirnya dapat terungkap.

