BERITA TERKINI
Mengenal Enumerator, Pekerja Lapangan yang Menopang Survei dan Riset Pasar

Mengenal Enumerator, Pekerja Lapangan yang Menopang Survei dan Riset Pasar

Pertanyaan seperti, “Jika pemilihan umum presiden diadakan hari ini, siapakah yang akan Ibu/Bapak pilih dari tiga nama calon pasangan?” belakangan kerap terdengar. Pertanyaan semacam itu biasanya diajukan lembaga survei, baik melalui telepon maupun tatap muka, untuk mengumpulkan informasi dari responden.

Di balik proses pengumpulan data tersebut, ada pekerja lapangan yang perannya krusial: enumerator. Secara umum, enumerator adalah orang yang mengumpulkan data dan informasi statistik dari responden, lalu menyerahkannya kembali kepada lembaga survei untuk diolah dan dianalisis.

Kerja enumerator tidak hanya terkait survei politik. Kebutuhan pengumpulan data lapangan juga muncul dalam riset pasar, misalnya untuk membaca tren konsumen atau perkembangan industri. Karena sifatnya yang tidak selalu terikat, pekerjaan ini kerap dilihat sebagai peluang kerja lepas atau pekerjaan sampingan.

Salah satu vendor riset yang berbasis di Surabaya, Agus Sutrisno, menyebut dirinya kerap menerima pesanan proyek penelitian dan survei pasar dari perusahaan-perusahaan di Jakarta. Dalam menjalankan proyek, ia mengandalkan tim lapangan dan, bila diperlukan, mencari tambahan tenaga di luar tim kecilnya. “Saya cuma vendor saja. Saya punya tim yang mengerjakan di lapangan,” kata Agus.

Menurut Agus, ruang lingkup pekerjaan enumerator bergantung pada metodologi survei, karakteristik responden, serta jumlah responden yang diminta. Aspek yang biasanya ditentukan antara lain ukuran sampel, indikator proses yang diukur, dan ketersediaan data yang relevan. Ia juga menyebut adanya beberapa pendekatan, seperti sampel booster dan random. Untuk metode random, responden biasanya sudah ditunjuk dan ditentukan oleh perusahaan dari Jakarta.

Di tempat Agus, proyek survei bisa berjalan hampir setiap hari. Kondisi itu membuat kebutuhan tenaga tambahan muncul secara berkala, termasuk merekrut orang baru untuk terlibat dalam pencarian data. Secara umum, ia menyebut tidak ada kriteria khusus untuk menjadi enumerator, namun setidaknya harus menguasai kuesioner. Bagi anggota baru, Agus biasanya memberikan briefing, yang dapat dilakukan secara daring, sebelum menetapkan target pencarian responden sesuai kriteria proyek.

Soal penghasilan, artikel ini juga menggambarkan variasi model upah. Di Amerika Serikat, enumerator disebut rata-rata dibayar 15 dolar AS per jam atau setara Rp232.000, sehingga dalam sebulan dapat mencapai sekitar Rp40 juta dengan asumsi kurs Rp15.500 per dolar AS. Di sana, enumerator umumnya dipekerjakan institusi pemerintah seperti badan statistik atau departemen terkait. Disebut pula bahwa enumerator tingkat senior dapat memperoleh bayaran lebih tinggi, terutama jika berpengalaman dan memiliki kemampuan bahasa asing.

Di Indonesia, lowongan enumerator juga banyak muncul dari instansi pemerintah, namun komposisi pekerja lepas disebut lebih dominan. Konsekuensinya, upah lebih sering dihitung berdasarkan jumlah responden atau angket yang berhasil dikumpulkan, bukan durasi kerja. Nilai per responden berbeda-beda, tergantung tingkat kesulitan dan kompleksitas pertanyaan, serta karakteristik responden yang disasar.

Agus memberi contoh kisaran bayaran termurah di tempatnya sekitar Rp40.000 sampai Rp50.000 per responden. Sementara untuk responden dengan tingkat kesulitan tinggi bisa di atas Rp100.000, bahkan mencapai jutaan. Ia menambahkan, proyek business to business cenderung memiliki fee lebih mahal, misalnya pengumpulan data ke dokter, apotek, atau rumah sakit.

Meski tampak menjanjikan, pekerjaan enumerator tidak selalu mudah. Tri Susi, yang menekuni pekerjaan ini sejak masa kuliah, menekankan bahwa pengambilan data lapangan membutuhkan keluwesan menghadapi perubahan dan tantangan, terutama saat berinteraksi dengan responden yang beragam. “Kita kan hadapi orang bukan benda mati. Jadi namanya manusia berbagai macam watak,” ujarnya.

Tri Susi menyebut beberapa kemampuan dasar yang penting dimiliki enumerator. Pertama, kemampuan menganalisis, yang berpengaruh pada kualitas hasil riset karena enumerator berhadapan dengan banyak data dan perlu memahami inti persoalan. Kedua, kemampuan bersosialisasi dan komunikasi agar wawancara berjalan nyaman dan responden lebih terbuka. “Ini perlu untuk percepat menyesuaikan diri dari berbagai macam responden. Bisa adaptasi dengan mereka,” kata Susi.

Selain itu, pekerjaan ini juga menuntut keterampilan lain seperti kemampuan bernavigasi karena enumerator sering berpindah lokasi dan perlu merancang rute kunjungan untuk memaksimalkan waktu. Kemampuan bahasa asing juga dapat menjadi nilai tambah dan membuka peluang proyek dengan bayaran lebih tinggi.

Pada akhirnya, profesi enumerator menuntut kesiapan fisik dan mental, termasuk menghadapi panas, berjalan jauh, hingga mendatangi orang yang tidak dikenal. Namun bagi yang berminat, pengalaman bukan selalu syarat utama karena banyak lembaga survei yang merekrut enumerator sekaligus memberikan pelatihan, termasuk vendor yang dapat menjelaskan cara kerja di lapangan.