BERITA TERKINI
Menelisik Unsur Intrinsik Novel "Laut Bercerita" Karya Leila S. Chudori

Menelisik Unsur Intrinsik Novel "Laut Bercerita" Karya Leila S. Chudori

Leila Salikha Chudori lahir di Jakarta pada 12 Desember 1962 dan menempuh pendidikan di Trent University, Kanada. Ia memulai debut kepenulisan sejak usia 12 tahun dengan karya yang terbit di sejumlah media, antara lain majalah Si Kuncung, Kawanku, dan Hai. Leila juga disebut terinspirasi oleh penulis seperti James Joyce dan Jerome David Salinger.

Pada 1989, Leila menerbitkan kumpulan cerpen Malam Terakhir yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dengan judul Die Letzte Nacht (Horlemman Verlag). Kumpulan cerpen 9 dari Nadira terbit pada 2009 melalui Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) dan memperoleh Penghargaan Sastra dari Badan Bahasa. Sementara itu, novel Pulang yang terbit pada 2012 telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Prancis, Belanda, Jerman, dan Italia; karya tersebut memenangkan Prosa Terbaik Khatulistiwa Literary Award 2013 serta masuk daftar “75 Notable Translations of 2016” versi World Literature Today.

Selain menulis prosa, Leila juga menggagas dan menulis skenario drama televisi Dunia Tanpa Koma serta skenario film pendek Drupadi (keduanya diproduksi Sinemart). Pada Oktober 2017, KPG menerbitkan novel Laut Bercerita, sebuah fiksi-historikal yang mengangkat kisah dari tragedi penculikan aktivis pada 1998.

Sinopsis singkat

Laut Bercerita berlatar 1998 dan mengisahkan Biru Laut, mahasiswa yang diculik sekelompok orang tak dikenal. Bersama tiga temannya, ia dibawa ke lokasi rahasia dan disekap selama berbulan-bulan. Selama penyekapan, mereka mengalami interogasi dan kekerasan fisik agar bersedia mengungkap siapa yang dianggap menjadi dalang gerakan aktivis dan mahasiswa.

Di waktu yang sama, keluarga Wibisono menjalani hari Minggu seperti biasa sambil menunggu Biru Laut pulang. Namun, Biru Laut tak kunjung kembali. Dua tahun setelah hilangnya Biru Laut, adiknya, Asmara Jati, bersama Tim Komisi Orang Hilang yang dipimpin Aswin Pradana berupaya menelusuri jejak orang-orang yang hilang, mempelajari kesaksian mereka yang kembali, serta menuntut kejelasan nasib para korban bersama keluarga dan orang-orang terdekat, termasuk Anjani, kekasih Biru Laut. Dari “dasar laut yang sunyi”, Biru Laut digambarkan bercerita kepada dunia tentang apa yang terjadi pada dirinya dan kawan-kawannya.

Unsur intrinsik: tema hingga amanat

Dalam pembacaan unsur intrinsik, novel ini memuat elemen-elemen yang membangun cerita, mulai dari tema, alur, latar, tokoh dan penokohan, sudut pandang, gaya bahasa, hingga amanat.

Tema

Tema utama yang disorot adalah legitimasi, yakni gambaran tentang legitimasi negara pada masa Orde Baru terhadap rakyat yang berujung pada penindasan. Selain itu, tema minor yang menonjol ialah perjuangan: upaya mahasiswa dan masyarakat sipil memperjuangkan keadilan melalui aksi serta diskusi untuk melawan kekuasaan yang digambarkan sewenang-wenang.

Alur

Novel menggunakan alur campuran (maju dan mundur). Bagian awal cenderung bergerak maju dengan pengenalan tokoh-tokoh dan tradisi keluarga Biru Laut. Di pertengahan, cerita bergerak mundur untuk menghadirkan perjuangan aktivis serta pengalaman penyiksaan. Menjelang akhir, alur kembali maju dengan fokus pada upaya Asmara Jati menelusuri jejak Biru Laut dan aktivis yang dihilangkan secara paksa.

Latar

Latar tempat yang muncul antara lain rumah tokoh Alex (paviliun kecil di kawasan Jagakarsa), rumah hunian yang digunakan sebagai lokasi diskusi aktivis (disebut berada di Seyegan, Desa Pete Margodadi Godean), rumah makan/warung, serta mobil yang menjadi bagian dari adegan penculikan.

Latar waktu ditunjukkan melalui penanda seperti sore hari, lusa, kemarin, dan malam hari. Adapun latar suasana bervariasi—mulai dari khawatir, kecewa, takut, santai, tegang, panik, takjub, mencekam, gaduh, hingga bergurau—yang mengiringi dinamika cerita dan relasi antartokoh.

Tokoh dan penokohan

Biru Laut digambarkan sebagai sosok pekerja keras, penuh semangat, pencemas, sekaligus pemberani. Kasih Kinanti ditampilkan optimistis, memiliki jiwa pemimpin, serta bijaksana. Asmara Jati digambarkan cerdas, perasa, dan tangguh dalam menghadapi situasi yang menekan.

Tokoh lain yang disebut antara lain Anjani (kekasih Biru Laut yang piawai membuat sketsa), Naratama (cerdas, ceplas-ceplos, kritis), Gusti Suroso (fotografer berwatak dingin dan dermawan, disebut digadang-gadang menjadi pengkhianat), Alex Perazon (baik, sensitif, sopan, juga berbakat fotografi), Daniel Tumbuan (kritis, cerewet, mudah mengeluh), Sunu Dyantoro (bijaksana, pendiam, suka membantu), Bapak (penyayang, lembut, pemberani), Gala Pranaya (pemberani, tidak mudah putus asa, bijaksana), Ibu (pekerja keras, lembut, penyayang), Arifin Bramantyo/Bram (santun, pemberani, bersemangat), serta kelompok penjahat dan para intel yang digambarkan kejam dan licik.

Sudut pandang

Cerita dituturkan melalui sudut pandang orang pertama dari dua karakter: Biru Laut Wibisono dan Asmara Jati. Biru Laut berkisah tentang aktivitas dan perjuangan sebagai mahasiswa yang menentang kebijakan Orde Baru, termasuk pengalaman kekerasan aparat. Sementara Asmara Jati menuturkan pencarian terhadap kakaknya dan aktivis yang hilang, serta upaya menuntut kebenaran dan keadilan.

Gaya bahasa

Novel ini dicatat menggunakan beragam majas, antara lain simile, litotes, metafora, repetisi, personifikasi, sinekdoke, hiperbola, dan hipalase. Keberagaman gaya bahasa tersebut dipakai untuk menegaskan suasana batin tokoh, menajamkan gambaran kekerasan dan ketegangan, serta memperkuat efek puitik dalam narasi.

Amanat

Melalui kisah yang meski berbentuk fiksi namun diangkat dari tragedi penculikan aktivis 1998, novel ini menyampaikan pesan tentang keberanian melawan ketidakadilan, keteguhan untuk tidak menyerah dalam memperjuangkan hal yang patut diperjuangkan, serta kewaspadaan dalam menilai orang-orang di sekitar. Secara umum, Laut Bercerita menghadirkan refleksi tentang perjuangan dan konsekuensi yang mengiringinya, sekaligus dorongan untuk terus menuntut kejelasan dan kemanusiaan.