BERITA TERKINI
Mendag Optimistis Industri Tekstil Nasional Tahan Dampak Krisis Timur Tengah

Mendag Optimistis Industri Tekstil Nasional Tahan Dampak Krisis Timur Tengah

Jakarta – Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan tidak terlalu khawatir terhadap dampak krisis geopolitik di Timur Tengah terhadap industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional. Ia menilai ekosistem tekstil Indonesia yang terintegrasi dari hulu hingga hilir menjadi modal penting untuk menjaga daya saing di tengah tantangan global.

“Ekosistemnya di Indonesia itu bagus, dari bahan baku sampai hilirnya ada, ya, berarti kita bisa bersaing. Kita tidak terlalu khawatir dengan produk asing,” ujar Budi di Jakarta, Kamis (16/4/2026).

Pernyataan itu disampaikan untuk merespons kekhawatiran mengenai kendala produksi tekstil dalam negeri serta potensi banjir produk impor akibat eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat-Israel. Budi mengakui, fluktuasi harga energi global yang dipicu ketegangan di Timur Tengah dapat berdampak pada biaya produksi berbagai sektor, termasuk tekstil.

Meski demikian, ia menekankan industri TPT nasional dinilai memiliki daya tahan yang kuat karena ditopang ekosistem yang berjalan baik, mulai dari ketersediaan bahan baku, manufaktur, distribusi, peran desainer, hingga keterlibatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Ya, tapi kan kebanyakan kalau dari tekstil ini kan tadi disampaikan (bahwa) ekosistem di Indonesia sudah berjalan dengan bagus,” kata Budi.

Ia menambahkan, kenaikan harga minyak dunia merupakan konsekuensi dari krisis global yang dirasakan banyak negara. Menurutnya, kondisi tersebut justru menegaskan pentingnya kesiapan bersaing karena dampaknya terjadi secara luas.

“Semua terdampak perang Timur Tengah ini. Ya, tapi ketika semua berdampak ya kita siap bersaing,” imbuhnya.

Selain kekuatan ekosistem, Budi menilai permintaan pasar domestik masih menjadi motor penggerak utama industri TPT. Ia meminta pelaku usaha tidak perlu cemas dan memastikan aktivitas industri tetap berjalan.

Optimisme tersebut turut didukung kinerja sektor TPT sepanjang 2025 yang mencatat pertumbuhan 3,55 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Nilai ekspor sektor ini mencapai 12,08 miliar dolar AS dengan surplus 3,45 miliar dolar AS.

“Jadi selain potensi dalam negeri, ekspor cukup bagus. Kualitasnya cukup bagus. Kalau kualitas bagus, punya daya saing, kita bisa mengendalikan impor,” pungkas Budi.