Jakarta — Para pemimpin perusahaan di Indonesia dan negara-negara lain kini menghadapi titik perubahan besar dalam strategi teknologi. Keputusan seperti penerapan arsitektur cloud hingga implementasi kecerdasan buatan (AI) semakin terkait dengan pertanyaan mendasar: siapa yang mengendalikan data, teknologi, dan operasi organisasi.
IBM General Manager Asia Pasifik, Hans Dekkers, menilai kedaulatan—kemampuan memanfaatkan teknologi secara mandiri—telah bergeser dari sekadar formalitas kepatuhan menjadi faktor daya saing di kawasan Asia Pasifik. Menurutnya, kawasan ini tengah dibentuk ulang oleh dinamika global yang berubah cepat, regulasi yang makin kompleks, serta ancaman siber yang meningkat.
Dalam konteks tersebut, kedaulatan digital organisasi dipahami sebagai kemampuan menunjukkan kendali yang jelas dan terukur atas teknologi yang digunakan, sambil tetap mendorong agenda inovasi. “Di tengah disrupsi yang belum pernah terjadi sebelumnya, pertanyaan yang dihadapi setiap CEO adalah: apakah mereka benar-benar mengendalikan data mereka, atau justru malah sebaliknya,” kata Dekkers, dikutip Rabu (8/4/2026).
Dekkers menekankan pentingnya data sebagai aset bernilai tinggi, namun menyebut 99% data perusahaan masih belum dimanfaatkan secara optimal. Ia juga mengutip prediksi Gartner yang menyatakan bahwa pada 2028, 65% pemerintah di seluruh dunia akan menerapkan persyaratan kedaulatan teknologi untuk memperkuat kemandirian dan melindungi diri dari intervensi regulasi lintas yurisdiksi.
Dari sistem terpisah menuju alur kerja terhubung
Di sisi lain, banyak perusahaan dinilai belum siap menghadapi lanskap kedaulatan digital dan risiko siber yang terus berkembang. Asia Pasifik disebut menjadi kawasan dengan serangan terbanyak kedua di dunia, dengan kontribusi 27% dari total insiden siber.
Dalam era AI, model operasional yang berpusat pada alur kerja (workflow-centric) menjadi salah satu pendekatan yang mulai diadopsi perusahaan. Model ini mengorkestrasi proses secara menyeluruh dengan agen AI yang tertanam untuk memahami konteks, memicu tindakan, serta berkolaborasi dengan manusia. Perusahaan yang mengadopsinya disebut berupaya mengurangi hambatan, menekan biaya, dan meningkatkan produktivitas melalui otomatisasi berbasis AI serta kelincahan lintas fungsi.
IBM menyebut transformasi internalnya sebagai “Client Zero”, yakni menjadikan perusahaan sebagai pengguna pertama sekaligus ajang uji coba teknologi yang dikembangkan. Dalam program ini, IBM mengintegrasikan AI di lebih dari 70 alur kerja, dengan target menghasilkan penghematan produktivitas tahunan senilai US$4,5 miliar hingga akhir 2025. Efisiensi tersebut disebut akan diinvestasikan kembali untuk kapabilitas terdepan, arsitektur yang berdaulat, serta sumber pertumbuhan baru.
Hybrid cloud sebagai fondasi kedaulatan
IBM menilai fondasi teknis kedaulatan digital adalah hybrid cloud yang dirancang sejak awal, dengan tata kelola AI yang tertanam sejak tahap perancangan. Pendekatan ini tidak diposisikan sebagai pilihan antara publik atau privat, global atau lokal, melainkan rancangan yang dibuat secara sengaja dan strategis.
Menurut IBM, otoritas atas teknologi harus dapat dibuktikan dan tetap terjaga dalam berbagai situasi. Karena itu, organisasi dinilai perlu memadukan keterbukaan hybrid cloud dengan kekuatan AI. Kombinasi ini disebut membantu organisasi melampaui peningkatan bertahap yang kerap muncul dari investasi infrastruktur tradisional yang terlalu menitikberatkan pada lokasi data atau kontrol teritorial, menuju arsitektur yang lebih fleksibel, aman, dan mendukung inovasi berkelanjutan dengan kendali tetap di tangan organisasi.
Pendekatan tersebut juga diklaim memberi kebebasan bagi organisasi untuk memilih teknologi, model, dan lingkungan operasional tanpa terikat pada lokasi vendor maupun batasan operasional, sekaligus tetap memahami ketergantungan teknologi dan memegang kendali atas kapabilitas AI.
Bagi pengambil keputusan teknologi, pilihan arsitektur diringkas menjadi prinsip: mendekatkan model ke data, bukan sebaliknya. Prinsip ini disebut dapat membuka kepatuhan terhadap regulasi lokal, mempercepat inovasi, dan mempermudah pengelolaan pertahanan siber, sembari menjaga kendali organisasi atas arah dan kewajiban inovasi.
Kepercayaan sebagai modal utama AI
Selain kepatuhan, kedaulatan digital juga dipandang sebagai isu kepercayaan. Organisasi dituntut menunjukkan komitmen melindungi data, menghormati hak pemilik data, dan beroperasi secara etis. Disebutkan pula bahwa 19% konsumen mengaku kehilangan kepercayaan terhadap sebuah merek akibat pelanggaran data atau kebijakan perlindungan data yang buruk.
IBM menilai perusahaan yang berdaulat tidak berhenti pada kepatuhan regulasi, tetapi membangun kepercayaan melalui transparansi dan tanggung jawab atas kebijakan data serta teknologi. Disebutkan, 80% organisasi multinasional akan mengimplementasikan strategi kedaulatan data pada 2027, seiring kebutuhan membangun kepercayaan lintas batas.
Di tengah tantangan tersebut, peluang pasar juga dinilai besar. Pasar sovereign cloud diproyeksikan tumbuh 4,5 kali lipat pada 2028 hingga mencapai US$169 miliar secara global, dengan Asia Pasifik sebagai kawasan dengan pertumbuhan tercepat. Belanja di sektor yang diatur ketat, seperti perbankan dan kesehatan, diperkirakan meningkat lima kali lipat menjadi US$66 miliar pada 2028.
Kedaulatan digital sebagai strategi daya saing
IBM menilai gelombang kedaulatan digital sudah tiba, terutama di Asia Pasifik yang disebut bertumbuh cepat sekaligus menghadapi intensitas serangan siber tinggi. Jika diterapkan dengan tepat, kedaulatan digital dipandang dapat menjadi keunggulan organisasi untuk bergerak lebih cepat, berinovasi dengan aman, dan membangun kepercayaan dalam skala besar.
Dalam kerangka tersebut, kedaulatan digital diposisikan sebagai fondasi ketahanan dan pertumbuhan. Organisasi yang mampu menguasainya disebut berpeluang meluncurkan produk lokal lebih cepat, menghasilkan nilai ekonomi dari data melalui kemitraan tepercaya, serta menjadikan kekuatan keamanan sebagai sumber kepercayaan pelanggan—tanpa harus mengorbankan kecepatan dan inovasi yang ditawarkan teknologi berskala global.