BERITA TERKINI
Membaca Unsur Intrinsik Novel “Laut Bercerita” Karya Leila S. Chudori

Membaca Unsur Intrinsik Novel “Laut Bercerita” Karya Leila S. Chudori

Novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori, yang pertama kali diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) pada Oktober 2017, dikenal sebagai novel fiksi-historikal yang mengangkat kisah tragedi penculikan aktivis pada 1998. Cerita berpusat pada pengalaman seorang mahasiswa bernama Biru Laut yang diculik dan disekap, serta upaya keluarga dan orang-orang terdekatnya untuk mencari kejelasan nasib mereka yang hilang.

Leila Salikha Chudori lahir di Jakarta pada 12 Desember 1962 dan menempuh pendidikan di Trent University, Kanada. Ia telah menulis sejak usia 12 tahun dan karyanya pernah dipublikasikan di sejumlah media. Di antara karya-karyanya, ia menerbitkan kumpulan cerpen Malam Terakhir (1989) serta 9 dari Nadira (2009) yang mendapatkan Penghargaan Sastra dari Badan Bahasa. Leila juga menulis novel Pulang (2012) yang memenangkan Prosa Terbaik Khatulistiwa Literary Award 2013 dan diterjemahkan ke berbagai bahasa.

Dalam Laut Bercerita, kisah dimulai pada 1998 ketika Biru Laut diculik oleh sekelompok orang tidak dikenal. Ia dibawa bersama tiga temannya ke tempat yang tidak diketahui dan mengalami interogasi serta penyiksaan dalam masa penyekapan berbulan-bulan. Pada waktu yang sama, keluarga Wibisono menunggu kepulangan Biru Laut yang tak kunjung datang. Dua tahun setelah hilangnya Biru Laut, adiknya, Asmara Jati, bersama Tim Komisi Orang Hilang yang dipimpin Aswin Pradana, berupaya menelusuri jejak para aktivis yang hilang. Mereka mempelajari kesaksian orang-orang yang kembali, sementara keluarga dan kerabat para korban terus menuntut kejelasan.

Analisis unsur intrinsik novel ini mencakup tema, alur, latar, tokoh dan penokohan, sudut pandang, gaya bahasa, hingga amanat yang dikandungnya.

Tema utama yang disorot adalah legitimasi, yang dalam pembacaan ini dipahami sebagai gambaran legitimasi negara pada masa Orde Baru terhadap rakyat yang berujung pada penindasan. Sementara itu, tema minor yang menonjol adalah perjuangan, yakni upaya sekelompok mahasiswa dan masyarakat sipil yang melakukan aksi serta diskusi untuk memperjuangkan keadilan.

Alur yang digunakan disebut sebagai alur campuran (maju dan mundur). Bagian awal bergerak maju dengan memperkenalkan tokoh-tokoh dan tradisi keluarga Biru Laut. Di pertengahan, cerita bergerak mundur untuk menampilkan perjuangan para aktivis dan penyiksaan yang mereka alami. Bagian akhir kembali bergerak maju dengan menampilkan perjuangan Asmara Jati dalam menelusuri jejak sang kakak dan para aktivis yang dihilangkan secara paksa.

Latar dikelompokkan menjadi latar tempat, waktu, dan suasana. Latar tempat yang disebut antara lain rumah tokoh Alex di kawasan Jagakarsa, rumah hunian di Seyegan (Desa Pete Margodadi, Godean) yang dipandang strategis untuk diskusi, rumah makan yang menjadi ruang pertemuan, serta mobil yang menjadi bagian dari adegan penculikan. Latar waktu yang muncul mencakup sore hari, lusa, kemarin, dan malam hari. Adapun latar suasana yang ditonjolkan beragam, mulai dari khawatir, kecewa, takut, santai, tegang, panik, takjub, mencekam, gaduh, hingga bergurau.

Tokoh dan penokohan dalam novel menempatkan Biru Laut sebagai tokoh utama yang digambarkan pekerja keras, penuh semangat, pencemas, dan pemberani. Kasih Kinanti digambarkan optimis, memiliki jiwa pemimpin, serta bijaksana. Asmara Jati digambarkan cerdas, perasa, dan tangguh. Tokoh lain yang disebut antara lain Anjani sebagai kekasih Biru Laut yang pandai membuat sketsa dan digambarkan percaya diri serta berpendirian teguh; Naratama sebagai aktivis yang cerdas namun kerap ceplas-ceplos; Gusti Suroso yang berkecimpung dalam fotografi dan disebut dingin serta dermawan; Alex Perazon yang digambarkan baik, sensitif, dan sopan; Daniel Tumbuan yang kritis namun cerewet dan suka mengeluh; Sunu Dyantoro yang bijaksana dan perhatian; serta tokoh Bapak dan Ibu yang digambarkan penyayang dan pekerja keras. Ada pula tokoh lain seperti Gala Pranaya, Arifin Bramantyo, kelompok penjahat, dan para intel yang digambarkan kejam.

Sudut pandang novel ini ditulis dengan orang pertama melalui dua karakter berbeda, yakni Biru Laut Wibisono dan Asmara Jati. Dari Biru Laut, pembaca mengikuti pengalaman aktivisme, tekanan politik, hingga kekerasan yang dialami saat penyekapan. Dari Asmara Jati, pembaca mengikuti upaya pencarian dan tuntutan keadilan terhadap hilangnya sang kakak serta aktivis lain.

Gaya bahasa yang dicatat dalam pembacaan ini meliputi sejumlah majas, seperti simile, litotes, metafora, repetisi, personifikasi, sinekdoke, hiperbola, dan hipalase. Berbagai majas tersebut digunakan untuk menegaskan suasana, memperkuat kesan emosional, serta menggambarkan ketegangan dan pengalaman batin para tokoh.

Amanat yang ditarik dari novel ini menekankan keberanian melawan ketidakadilan, keteguhan untuk tidak menyerah dalam memperjuangkan hal yang patut diperjuangkan, serta kewaspadaan dalam mempercayai orang lain karena kemungkinan pengkhianatan. Secara keseluruhan, kisah ini menempatkan perjuangan sebagai proses panjang yang tidak mudah, namun tetap menyisakan pelajaran tentang daya tahan manusia ketika berhadapan dengan kekerasan dan ketidakpastian.