BERITA TERKINI
Membaca Unsur Intrinsik “Laut Bercerita”: Alur Campuran, Dua Sudut Pandang, dan Pesan Keadilan

Membaca Unsur Intrinsik “Laut Bercerita”: Alur Campuran, Dua Sudut Pandang, dan Pesan Keadilan

Novel Laut Bercerita menghadirkan suasana cerita yang berlapis. Sepanjang kisah, pembaca dibawa ke atmosfer yang menegangkan dan mencekam, sekaligus memilukan dan mengharukan. Di sejumlah bagian, nuansa menakutkan dan menyedihkan menguat, namun diselingi pula penyangkalan, romansa, serta kehangatan keluarga yang menjadi penyeimbang emosi cerita.

Dari sisi alur, novel ini menggunakan alur campuran. Peristiwa tidak disajikan secara berurutan, tetapi tetap saling terhubung. Setiap bab menampilkan latar waktu dan tempat yang berbeda. Kisah Biru Laut bergerak antara masa kini dan masa lalu, memuat cerita tentang pergerakan menuntut keadilan dan perlawanan terhadap rezim pemerintah pada masa itu, sekaligus menampilkan persahabatan, dinamika keluarga, dan romansa yang membuat rangkaian peristiwa terasa lebih beragam.

Struktur penceritaan juga ditopang oleh dua sudut pandang orang pertama. Tokoh Biru Laut tampil sebagai aktivis yang mengalami kekerasan hingga dibunuh secara kejam, sementara Asmara Jati—adik Biru Laut—muncul sebagai sosok yang mencari keadilan untuk kakaknya. Penggunaan kata “aku” menandai kedekatan narasi dengan pengalaman batin kedua tokoh utama.

Melalui sudut pandang Biru Laut, pembaca diajak merasakan penderitaan dan kebrutalan yang dialami para aktivis pada era Orde Baru. Sementara dari sudut pandang Asmara Jati, cerita menyoroti pengalaman sebuah keluarga yang kehilangan saudara atau anak dalam situasi ketidakadilan dan ketidakjelasan nasib, hingga sosok yang hilang tak pernah kembali.

Novel ini juga memuat sejumlah amanat. Di antaranya, ajakan untuk tidak takut menegakkan keadilan meski harus menghadapi hal-hal tidak menyenangkan; kehati-hatian agar tidak mudah percaya, bahkan kepada orang terdekat; dorongan untuk bersabar dan berlapang dada menghadapi kenyataan menyakitkan karena ada pelajaran yang dapat dipetik; serta ajakan bersyukur dan berterima kasih kepada para pahlawan yang rela gugur demi keadilan.

Dari sisi kepengarangan, Laut Bercerita ditulis oleh Leila S. Chudori. Leila Salikha Chudori lahir di Jakarta pada 12 Desember 1962 dan menempuh pendidikan di Trent University, Kanada. Karya-karya awalnya telah dipublikasikan di berbagai media sejak ia berusia 12 tahun. Namanya dikenal melalui cerita pendek, novel, serta skenario drama televisi.

Dalam catatan biografinya, Leila digambarkan menggunakan imajinasi untuk meruang-waktu, menampilkan kejadian secara paralel dan simultan, serta memadukan pengalaman pribadi. Ia juga disebut tidak ragu mengangkat hal-hal yang dianggap tabu bagi masyarakat tradisional. Pada 1989, ia menerbitkan kumpulan cerpen Malam Terakhir yang diterjemahkan ke bahasa Jerman dengan judul Die Letzte Nacht. Kumpulan cerpen 9 dari Nadira terbit pada 2009 dan mendapatkan penghargaan dari Badan Bahasa. Pada 2012, Leila menerbitkan novel Pulang, yang kemudian diterjemahkan ke sejumlah bahasa dan memenangkan Prosa Terbaik Khatulistiwa Literary Award 2013, serta disebut sebagai salah satu “75 Notable Translation of 2016” oleh World Literature Today.

Leila juga tercatat sebagai penggagas dan penulis skenario drama televisi Dunia Tanpa Koma serta penulis skenario film pendek Drupadi, yang disebut diproduksi Sinemart. Ia menetap di Jakarta bersama putrinya, Rain Chudori Soerjoatmodjo, yang juga penulis.

Secara garis besar, cerita berangkat dari sebuah organisasi yang berisi sekelompok sahabat yang mendiskusikan buku-buku terlarang, termasuk karya Pramoedya Ananta Toer. Mereka melakukan aksi untuk mencapai keadilan, namun organisasi tersebut akhirnya dilarang pemerintah. Situasi itu berdampak pada Biru Laut yang menjadi tokoh penting dalam kisah. Cerita kemudian berlanjut melalui sudut pandang Asmara Jati pada tahun 2000-an. Bersama keluarga aktivis lain, Asmara bergabung dengan Aswin untuk mencari keadilan kepada pemerintah yang dianggap lebih peduli. Duka kehilangan membuat banyak keluarga hidup dalam penyangkalan, mempertahankan imajinasi bahwa anggota keluarga yang hilang masih hadir dalam keseharian—termasuk melalui kebiasaan menyiapkan empat piring saat makan malam Minggu, memutar lagu yang menandai kehadiran Laut, serta merawat buku dan kamar milik Laut seolah-olah ia akan pulang sewaktu-waktu.