BERITA TERKINI
Membaca Novel "Kalau Tak Untung": Kisah Rasmani–Masrul dan Jejak Ekspresi Pengarangnya

Membaca Novel "Kalau Tak Untung": Kisah Rasmani–Masrul dan Jejak Ekspresi Pengarangnya

Novel Kalau Tak Untung karya Sariamin Ismail—dikenal pula dengan nama Selasih—terbit pada 1933 dan kerap dibaca sebagai salah satu karya penting pada awal perkembangan novel Indonesia. Cerita utamanya menyorot hubungan Rasmani dan Masrul, dua tokoh yang sejak kecil berteman, namun dipisahkan oleh perbedaan status sosial dan rangkaian keputusan yang berujung tragis.

Rasmani digambarkan berasal dari keluarga kurang mampu yang kerap dicibir warga desa karena pandangan keluarganya tentang pendidikan. Di sisi lain, Masrul memiliki kedudukan sosial lebih tinggi karena kekayaan. Rasmani telah lama memendam perasaan kepada Masrul, tetapi hubungan mereka tidak berjalan lurus. Ketika Masrul berusia 19 tahun dan berniat merantau, ibunya hanya menyetujui kepergian itu jika ia membawa Aminah—anak dari pihak mamaknya—sebagai tunangan.

Masrul menolak karena Aminah masih muda dan masih sepupunya. Namun, ia akhirnya menerima kesepakatan: Masrul diberi waktu dua tahun sebelum harus menikahi Aminah. Dalam rentang itu, ia merantau ke Padang. Di sana, Masrul bertemu Muslina, perempuan kaya, berpendidikan, dan cantik. Masrul kemudian menikahi Muslina, meski berseberangan dengan kehendak keluarganya.

Pernikahan itu justru menjadi titik balik yang pahit. Muslina digambarkan tidak menganggap Masrul sebagai suami dan bahkan sering memukulinya. Masrul menyesal dan ingin kembali kepada Rasmani. Ia sempat berjanji akan merantau ke Medan dan membawa Rasmani bersamanya. Namun, ketika pekerjaan di Medan tidak sesuai harapan, Masrul membatalkan janji tersebut. Rasmani terkejut, jatuh sakit, dan kondisinya terus memburuk.

Masrul kemudian memperoleh pekerjaan dengan gaji yang memuaskan. Ia menyesal dan menyampaikan niat menepati janjinya kepada Rasmani melalui surat. Akan tetapi, kabar itu justru membuat Rasmani semakin sakit hingga akhirnya meninggal.

Di luar ringkasan cerita, pembacaan novel ini kerap diletakkan dalam kerangka kritik sastra ekspresif—yakni pendekatan yang memandang karya sastra sebagai luapan gagasan, pengalaman, atau emosi pengarang. Dalam pandangan ini, karya tidak semata memantulkan realitas luar, melainkan menonjolkan kehidupan batin dan sikap pengarang yang diolah menjadi cerita.

Jejak ekspresi pengarang dapat ditautkan dengan latar hidup Sariamin Ismail. Ia lahir pada 31 Juli 1909 di Talu, Pasaman, Sumatera Barat. Pendidikan Sariamin tergolong tinggi untuk masanya, termasuk bersekolah di Meisjes Normaalschool (Sekolah Guru Perempuan) di Padang Panjang pada 1921–1925, serta mengikuti pendidikan pada masa Jepang sekitar 1943–1944 di Padang Panjang. Ia juga pernah belajar di sekolah Sabilussalam milik Ja’afar Jambek di Bukittinggi yang membuatnya dekat dengan ajaran Islam.

Dalam kariernya, Sariamin dikenal sebagai guru selama 43 tahun dan mengajar di berbagai wilayah Sumatera. Ia juga aktif berorganisasi, termasuk dalam kegiatan yang terkait feminisme dan kemerdekaan Indonesia, serta sempat menjadi anggota DPRD Riau pada 1947–1949. Pandangannya tentang kesetaraan gender, terutama pendidikan perempuan, tercermin dalam tulisan-tulisannya, termasuk yang menekankan pentingnya anak perempuan bersekolah.

Latar Sumatera Barat dalam novel tampak kuat melalui bahasa dan adat yang digunakan. Salah satu kutipan menampilkan penggunaan istilah khas seperti “mamak” dan gambaran tradisi merantau, yang dipahami sebagai bagian dari adat Minangkabau dan dilekatkan pada nilai religius: pergi mencari rezeki “ke mana ditakdirkan Tuhan”. Detail semacam ini menunjukkan bagaimana pengarang menghidupkan ruang sosial yang akrab dengan pengalaman kulturalnya.

Dalam penggambaran tokoh, Rasmani ditampilkan sebagai perempuan berpendidikan yang kerap menjadi sasaran cemooh warga desa. Kutipan yang menyorot celaan masyarakat terhadap keluarga Rasmani memperlihatkan benturan nilai antara pandangan modern tentang sekolah dan ekspektasi tradisional terhadap perempuan. Rasmani juga digambarkan sebagai sosok ideal: berbudi baik, rendah hati, pemaaf, bijaksana, dan pada akhirnya meraih cita-cita sebagai guru—sebuah capaian yang sejalan dengan latar pengarang yang lama berkiprah di dunia pendidikan.

Konflik lain muncul lewat rencana perjodohan Masrul dengan Aminah, sepupunya. Dalam dialog yang dikutip, Masrul menyampaikan keberatan atas perkawinan sedarah, dengan alasan yang merujuk pada pengetahuan dari buku. Bagian ini dibaca sebagai bentuk kritik terhadap praktik yang dinilai bermasalah, sekaligus menegaskan peran pendidikan dalam membentuk cara pandang tokoh.

Masrul bahkan meminta Rasmani mengajari Aminah membaca, menulis, serta keterampilan lain. Permintaan itu menegaskan kembali gagasan pentingnya pendidikan bagi perempuan, termasuk dalam konteks rumah tangga—sebuah gagasan yang juga menonjol dalam riwayat hidup dan aktivitas Sariamin.

Tokoh Muslina kemudian hadir sebagai perempuan kaya dan berpendidikan—disebut pernah bersekolah di MULO (Meeruitgebreid Lager Onderwijs), sekolah yang pada masanya ditujukan bagi golongan tertentu. Dalam pembacaan yang menautkan cerita dengan konteks sosial awal 1900-an, keberadaan tokoh berstatus tinggi yang berperilaku buruk dipahami sebagai cara pengarang menyorot ketimpangan dan penderitaan yang dialami pihak yang lebih lemah.

Akhir tragis Rasmani—tokoh yang digambarkan ideal—menjadi bagian yang menonjol dalam pembacaan ekspresif. Tragedi itu dipahami sebagai penegasan tema ketidakadilan yang menimpa kelas bawah, selaras dengan latar waktu yang disebut berada dalam bayang-bayang kolonialisme serta sikap pengarang yang, dalam berbagai kesempatan, menyampaikan kritik terhadap praktik sewenang-wenang pada masa itu.

Melalui latar, tokoh, dan alur, Kalau Tak Untung memperlihatkan keterhubungan antara pengalaman kultural pengarang di Sumatera Barat, pandangannya tentang pendidikan perempuan, serta kritik terhadap praktik sosial yang dianggap merugikan. Dalam kerangka kritik sastra ekspresif, novel ini dapat dilihat sebagai ruang tempat gagasan dan sikap batin pengarang menemukan bentuknya—baik melalui detail adat, pilihan konflik, maupun nasib para tokohnya.