Dalam kebijakan moneter, istilah dovish merujuk pada sikap bank sentral yang cenderung mendukung suku bunga rendah dan kebijakan ekonomi yang lebih longgar. Pendekatan ini umumnya ditempuh untuk mendorong pertumbuhan ekonomi serta memperkuat penciptaan lapangan kerja, terutama ketika aktivitas ekonomi melambat atau pengangguran meningkat.
Istilah dovish berasal dari kata “dove” atau burung merpati, yang menjadi simbol pendekatan yang lebih lunak. Istilah ini kerap dipasangkan dengan kebalikan sikapnya, yaitu hawkish, yang diibaratkan “hawk” atau elang—melambangkan ketegasan dalam menjaga inflasi dan kecenderungan untuk mengetatkan kebijakan moneter.
Secara umum, perbedaan utama antara kebijakan dovish dan hawkish terlihat dari kondisi ekonomi yang melatarbelakangi penerapannya. Kebijakan dovish lebih sering muncul saat ekonomi lesu atau inflasi berada di bawah target bank sentral. Sebaliknya, kebijakan hawkish lebih lazim ditempuh ketika inflasi meningkat tajam atau ekonomi menunjukkan tanda-tanda terlalu panas (overheating).
Di pasar keuangan, kebijakan dovish dapat memengaruhi berbagai kelas aset. Di pasar saham, suku bunga yang lebih rendah cenderung mendukung penguatan harga saham karena biaya pinjaman turun dan ruang ekspansi perusahaan meningkat. Pada pasar valuta asing, mata uang negara yang menerapkan kebijakan dovish berpotensi melemah karena imbal hasil yang lebih rendah. Sementara itu, aset kripto seperti Bitcoin kerap disebut mendapat dorongan ketika suku bunga rendah, seiring meningkatnya minat investor pada aset berisiko atau alternatif.
Salah satu contoh yang kerap dirujuk adalah langkah Federal Reserve pada 2020, ketika suku bunga diturunkan ke level mendekati nol. Pada periode tersebut, pasar saham AS mengalami lonjakan signifikan dan investor cenderung bergeser ke aset berisiko untuk mencari imbal hasil yang lebih tinggi.
Selain Federal Reserve, sejumlah bank sentral lain juga pernah mengambil langkah dovish. European Central Bank (ECB) secara historis menerapkan suku bunga negatif untuk merangsang ekonomi zona euro. Bank of Japan (BOJ) mempertahankan kebijakan moneter ultra-longgar, termasuk suku bunga negatif dan program pembelian obligasi dalam skala besar. Pada awal 2023, Bank Sentral Inggris juga menunjukkan sikap dovish dengan memperlambat kenaikan suku bunga di tengah ketidakpastian ekonomi akibat tekanan geopolitik.
Bagi pelaku pasar, kebijakan dovish sering dipandang membuka peluang strategi investasi tertentu. Pada saham, sektor yang dinilai diuntungkan oleh suku bunga rendah antara lain properti, teknologi, dan barang konsumsi. Di pasar forex, strategi carry trade kerap dikaitkan dengan lingkungan suku bunga rendah, yakni meminjam pada mata uang bersuku bunga rendah dan menginvestasikannya pada mata uang dengan suku bunga lebih tinggi. Di sisi lain, sebagian investor juga mempertimbangkan diversifikasi ke aset kripto, serta komoditas seperti emas yang cenderung menguat ketika mata uang fiat tertekan.
Untuk periode 2024–2025, sejumlah bank sentral diperkirakan akan mengadopsi atau mempertahankan kecenderungan dovish guna menopang pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global. Inflasi yang lebih terkendali dan perlambatan ekonomi di beberapa negara dapat mendorong bank sentral seperti Federal Reserve dan ECB untuk mempertahankan suku bunga rendah atau menurunkannya lebih lanjut. BOJ juga diperkirakan melanjutkan kebijakan dovish untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik. Sementara itu, Bank Indonesia disebut dapat mempertahankan pendekatan dovish dengan menyesuaikan suku bunga mengikuti dinamika inflasi dan nilai tukar rupiah.
Meski demikian, arah kebijakan moneter dapat berubah seiring perkembangan data ekonomi dan komunikasi bank sentral. Karena itu, investor dan pelaku pasar umumnya memantau indikator ekonomi serta pernyataan otoritas moneter untuk mengantisipasi dampak kebijakan terhadap pergerakan pasar keuangan.
Secara ringkas, kebijakan dovish merupakan pendekatan bank sentral untuk merangsang ekonomi melalui suku bunga rendah dan pelonggaran kebijakan. Dampaknya dapat terasa di pasar saham, valuta asing, hingga aset alternatif, sehingga pemahaman atas sinyal dovish dan hawkish kerap menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan investasi.

