Sejumlah maskapai penerbangan di kawasan Asia Pasifik menaikkan tarif tiket pesawat, atau bersiap melakukannya, menyusul lonjakan harga bahan bakar jet yang dipicu perang Iran versus Israel dan Amerika Serikat (AS). Berdasarkan indeks Platts, harga rata-rata bahan bakar penerbangan dunia tercatat mencapai USD 173,91 per barel pada Senin, 9 Maret 2026, hampir dua kali lipat dibanding level Januari dan jauh di atas harga minyak mentah.
Perang di Timur Tengah disebut memicu penutupan Selat Hormuz, jalur distribusi hampir 20 persen produksi minyak global. Dampaknya dinilai besar bagi Asia karena lebih dari 80 persen minyak dan gas yang melewati selat tersebut ditujukan untuk pasar Asia, menurut Badan Informasi Energi AS.
Dalam situasi ini, Cathay Pacific Airways pada Kamis, 12 Maret 2026, mengumumkan akan menaikkan biaya tambahan bahan bakar di sebagian besar rute mulai 18 Maret 2026. Maskapai berbasis di Hong Kong itu menyatakan harga bahan bakar jet telah “meningkat hampir dua kali lipat” di tengah perang melawan Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026.
Menurut Cathay Pacific, penyesuaian dilakukan sesuai mekanisme yang telah ditetapkan dan biaya tambahan bahan bakar ditinjau secara berkala dengan mengikuti harga bahan bakar jet olahan. Maskapai itu menyesuaikan biaya tambahan setiap bulan dengan mempertimbangkan harga bahan bakar.
Untuk penerbangan jarak pendek, biaya tambahan bahan bakar akan naik menjadi HKD 290 (sekitar Rp627 ribu) dari HKD 142 (sekitar Rp307 ribu). Pada penerbangan jarak menengah, biaya tersebut meningkat menjadi HKD 541 (sekitar Rp1,17 juta) dari HKD 264 (sekitar Rp570,5 ribu). Sementara untuk penerbangan jarak jauh, biaya tambahan meningkat lebih dari dua kali lipat dari HKD 569 (sekitar Rp1,23 juta) menjadi HKD 1.164 (sekitar Rp2,5 juta).
Di India, Air India menyampaikan rencana kenaikan biaya tambahan dalam tiga fase. Selain terdampak kenaikan harga bahan bakar, maskapai itu juga menyoroti tingginya pajak bea cukai dan PPN untuk bahan bakar turbin di kota-kota metropolitan seperti Delhi dan Mumbai.
Air India menyebut sejak awal Maret 2026 bahan bakar turbin penerbangan (ATF), yang menyumbang hampir 40 persen dari biaya operasional maskapai, mengalami kenaikan harga signifikan akibat gangguan pasokan. Maskapai itu menambahkan USD 4,30 (sekitar Rp72 ribuan) pada biaya penerbangan domestik mulai Kamis, 12 Maret 2026, serta tambahan USD 20 (sekitar Rp338,2 ribu) untuk penerbangan ke Asia Tenggara.
Mulai 18 Maret 2026, biaya tambahan untuk rute Eropa disebut akan naik 25 persen menjadi USD 125 (sekitar Rp2,1 juta), dan untuk Amerika Utara naik 33 persen menjadi USD 200 (sekitar Rp3,4 juta). Kenaikan harga pada fase ketiga tidak dirinci.
Masih dari India, pendiri maskapai berbiaya rendah SpiceJet, Ajay Singh, meminta pemerintah di Delhi mencari cara untuk mengurangi pajak bahan bakar jet. Dalam wawancara dengan Bloomberg, ia memperingatkan bahwa bahkan harga minyak USD 90 per barel pun “sama sekali tidak berkelanjutan” dan membuka kemungkinan menghentikan sebagian armada jika harga minyak terus melonjak.
Di Australia, Qantas dilaporkan menaikkan tarif yang besarannya bervariasi antar rute setelah biaya bahan bakar jet naik hingga 150 persen dalam dua minggu terakhir. Maskapai itu menyatakan, meski memiliki langkah-langkah lindung nilai, situasi tersebut tetap menyebabkan biaya yang lebih tinggi untuk seluruh grup.
Dean Long dari Asosiasi Industri Perjalanan Australia mengatakan kepada ABC News bahwa tarif penerbangan internasional maskapai tersebut diperkirakan naik sekitar lima persen secara keseluruhan. Namun, ia menilai dampak penuh perang kemungkinan baru terasa dalam tiga hingga enam bulan ke depan.
Di Asia Tenggara, Thai Airways menyatakan harga tiket masih tetap untuk saat ini, meski bisa berubah tergantung penawaran dan permintaan. Direktur Keuangan Thai Airways, Rut Rugsumruad, mengatakan kepada investor melalui konferensi video bahwa maskapai tersebut dapat menaikkan tarif 10–15 persen karena ketidakpastian harga bahan bakar, dan masih memiliki ruang untuk menaikkan biaya tambahan bahan bakar lebih lanjut jika harga minyak terus naik.
Sementara itu, Vietnam Airlines menyatakan meminta pemerintah menghapus pajak lingkungan atas bahan bakar jet untuk menekan biaya operasional.
Di Eropa, maskapai Skandinavia SAS termasuk yang lebih awal mengumumkan kenaikan harga bersifat sementara sejak perang di Timur Tengah dimulai. Maskapai lain seperti Air France-KLM dan Lufthansa disebut relatif terlindungi oleh strategi lindung nilai, yakni pembelian bahan bakar dengan harga tetap beberapa bulan sebelumnya. Maskapai berbiaya murah Ryanair juga dinilai terlindungi melalui strategi serupa, menurut laporan analis Bernstein.

