Presiden Prancis Emmanuel Macron mendorong pemanfaatan momentum Idul Fitri sebagai jalur diplomasi untuk meredam konflik di Timur Tengah, terutama ketegangan antara Iran dan Israel.
Dalam pernyataannya menjelang pertemuan para pemimpin Uni Eropa, Macron menilai hari raya keagamaan dapat menjadi titik masuk penting untuk menghentikan sementara aksi militer dan membuka kembali ruang negosiasi. Ia menyebut penghentian operasi militer, meski hanya berlangsung beberapa hari, bisa memberi peluang nyata bagi jalur diplomasi.
Macron juga menilai Idul Fitri yang jatuh pada 20 Maret memiliki makna simbolik kuat sebagai momen rekonsiliasi dan saling memaafkan. Menurutnya, nilai tersebut dapat diterjemahkan dalam konteks geopolitik untuk menahan eskalasi konflik di Timur Tengah.
Ketegangan disebut meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran. Serangan itu dilaporkan menimbulkan korban sipil serta menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan, yang memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik menjadi krisis regional.

