BERITA TERKINI
Luhut: Konflik AS-Israel-Iran Berpotensi Berkepanjangan, Indonesia Diminta Waspadai Dampak Energi dan Ekonomi

Luhut: Konflik AS-Israel-Iran Berpotensi Berkepanjangan, Indonesia Diminta Waspadai Dampak Energi dan Ekonomi

Jakarta — Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Panjaitan menilai eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran berpotensi berlangsung lama dan tidak akan selesai dalam waktu singkat. Pandangan itu ia sampaikan melalui unggahan di akun Instagram resminya, @luhut.pandjaitan, pada Kamis, 5 Maret 2026.

Luhut menyebut keyakinannya didasarkan pada pengamatan terhadap ketangguhan Iran dalam menghadapi tekanan. Menurut dia, Iran memiliki pengalaman panjang menghadapi tekanan internasional, termasuk bertahan hampir empat dekade di bawah embargo tanpa kehilangan semangat nasionalisme dan tekad mempertahankan kedaulatan.

“Saya melihat perang ini tidak akan selesai dalam empat minggu atau satu bulan ke depan karena sudah berapa pemimpin mereka (Iran) yang dibunuh, tidak ada tanda-tanda melemah,” kata Luhut.

Dalam konteks kebijakan luar negeri Indonesia, Luhut menekankan pentingnya tetap berpegang pada prinsip non-alignment atau non-blok. Ia mengingatkan Indonesia tidak perlu ikut bermusuhan dengan Iran dan harus berhati-hati menyusun strategi luar negeri dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap perekonomian.

“Kita jangan jadi ikut musuhan sama dia, nggak ada gunanya kan. Jadi sebagai non-alignment itu, non-blok itu, memang Indonesia harus hati-hati menyusun strategi luar negerinya karena ini dampaknya kepada ekonomi,” ujarnya.

Luhut menyoroti potensi gangguan pasokan energi global sebagai salah satu implikasi ekonomi paling signifikan. Ia menekankan perlunya menghitung secara cermat cadangan gas dan minyak Indonesia, terutama jika Selat Hormuz—jalur penting pengiriman minyak dari Timur Tengah—terganggu atau ditutup akibat konflik.

Menurut Luhut, penutupan Selat Hormuz dapat memicu kelangkaan pasokan minyak dunia dan mendorong kenaikan harga minyak global. Kondisi itu dinilai akan berdampak negatif bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor energi.

Ia juga mendorong penyusunan rencana kontingensi untuk menghadapi skenario terburuk. Luhut mengajak masyarakat menjaga kekompakan dan mendukung pemerintah agar dapat mengambil langkah proaktif dalam menjaga ketahanan energi.

“Jadi kontingensi-kontingensi harus disusun. Ya tentu bukan Indonesia saja yang kena seperti ini, banyak negara. Kita masyarakat Indonesia harus kompak untuk menghadapi semua. Jadi jangan ada yang berpikiran ekstrem ke sana ke sini. Kita harus mendukung pemerintah supaya bisa mengambil kebijakan-kebijakan yang proaktif untuk menjaga ketahanan energi kita,” kata Luhut.

Selain dampak langsung pada energi, Luhut menyampaikan kekhawatiran atas efek lanjutan melalui perekonomian China. Ia menilai, jika konflik berkepanjangan membuat China—sebagai salah satu importir minyak terbesar dari Iran—kesulitan mendapatkan pasokan, perlambatan ekonomi di China bisa terjadi dan berimbas ke Indonesia.

“Luhut mengaku ada hal lain yang ditakutkan jika perang ini berkelanjutan, yaitu jika China tidak dapat minyak lagi dari Iran. Dampaknya akan berpengaruh terhadap ekonomi China dan Indonesia bisa kena imbasnya,” ujarnya.

Luhut juga memperingatkan kemungkinan lonjakan harga minyak dunia hingga US$ 100 per barel. Ia menyebut kondisi tersebut dapat memberi tekanan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), mengingat harga minyak mentah Indonesia (ICP) ditetapkan pada level US$ 70 per barel.

“Jadi ini pertikaian strategis dunia yang kita harus amati dengan baik dan dampaknya pada ekonomi China akan luka. Nah ekonomi kita juga bisa akan terkena juga kalau harga minyak nanti tiba-tiba naik bertahap sampai US$ 100,” kata Luhut.

Terkait cadangan energi nasional, Luhut menyatakan ia menerima informasi yang berbeda, ada yang menyebut 30 hari dan ada yang menyebut 18 hari. Menurutnya, data tersebut perlu dipastikan akurasinya. Ia juga meminta pemerintah bergerak cepat mencari sumber impor minyak alternatif serta menghitung konsekuensinya terhadap APBN.

“Terkait dengan cadangan energi, Luhut sudah mengecek ada yang bilang 30 hari dan ada yang bilang 18 hari. Menurutnya, ini harus dipastikan dengan benar dan pemerintah harus gerak cepat mencari sumber impor minyak serta dampaknya ke APBN,” ujarnya.

Dalam kapasitasnya sebagai Ketua DEN, Luhut menyampaikan bahwa pihaknya akan terus menggelar diskusi terbuka untuk membahas berbagai skenario dan menyusun rekomendasi bagi pemerintah.

“Kita juga diskusi-diskusi terbuka di Dewan Ekonomi Nasional, kita dengarkan pendapat-pendapat bagaimana ini. Nanti kita berikan pendapat kita pada pemerintah,” kata Luhut.