Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) mencermati dampak eskalasi konflik di Timur Tengah terhadap perdagangan global yang berpotensi memengaruhi kinerja ekspor Indonesia. Salah satu perhatian utama adalah stabilitas jalur energi internasional, termasuk keamanan rute pelayaran strategis.
Head of Indonesia Eximbank Institute, Rini Satriani, mengatakan pihaknya memantau perkembangan konflik dan implikasinya, terutama terkait Selat Hormuz yang dinilai sebagai salah satu arteri utama perdagangan energi dunia. Pernyataan tersebut disampaikan dalam keterangan tertulis yang dikutip pada Kamis, 19 Maret 2026.
Di tengah dinamika harga komoditas dan kondisi perdagangan global akibat konflik, Rini menilai ekspor Indonesia pada 2026 masih berpeluang tumbuh di kisaran 4–5 persen. Ia juga menyebut ekspor Indonesia berpotensi meningkat sekitar 5–6 persen pada 2027, dengan catatan tensi geopolitik mereda dan permintaan global pulih secara bertahap.
Menurut Rini, dampak langsung konflik Timur Tengah terhadap perdagangan Indonesia diperkirakan relatif terbatas karena eksposur perdagangan dengan kawasan tersebut masih kecil. Risiko yang lebih besar dinilai muncul melalui jalur tidak langsung, terutama kenaikan harga energi dan volatilitas nilai tukar. Selain itu, aktivitas industri di negara mitra dagang utama juga dapat memengaruhi dinamika ekspor Indonesia.
Rini mengutip laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah oleh Indonesia Eximbank, yang menunjukkan ekspor Indonesia ke Timur Tengah sekitar 4,2 persen dari total ekspor nasional. Komoditas yang diekspor antara lain minyak kelapa sawit, perhiasan, serta mobil dan kendaraan bermotor lainnya. Sementara itu, impor Indonesia dari kawasan tersebut mencapai sekitar 3,9 persen dari total impor nasional dan didominasi komoditas energi, khususnya minyak.
“Struktur perdagangan tersebut menunjukkan bahwa eksposur perdagangan langsung Indonesia terhadap kawasan konflik relatif terbatas,” ujar Rini.
Ia menambahkan, sebagian besar ekspor Indonesia mengalir ke kawasan lain seperti Asia Timur (36,4 persen), Asia Tenggara (20,8 persen), Amerika Utara (11,5 persen), Asia Selatan (9,6 persen), dan Eropa Barat (5,7 persen). Menurutnya, dinamika ekonomi di kawasan-kawasan tersebut menjadi faktor yang lebih menentukan bagi kinerja ekspor nasional, meski risiko eskalasi konflik di Timur Tengah tetap perlu dicermati.
Dari sisi risiko, Rini menyebut harga minyak global diperkirakan berada di kisaran USD85–120 per barel apabila konflik berlangsung relatif lama. Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan biaya energi dan menekan aktivitas industri di sejumlah negara, yang pada gilirannya dapat memengaruhi permintaan terhadap produk ekspor Indonesia.
Meski demikian, Rini menilai beberapa komoditas ekspor Indonesia justru berpeluang terdorong. Batubara, yang berkontribusi sekitar 8–9 persen terhadap total ekspor nasional, dinilai berpeluang mendapat dukungan harga. Minyak kelapa sawit (CPO) juga disebut menunjukkan tren relatif kuat seiring permintaan global terhadap komoditas agro yang masih solid.
“Secara keseluruhan, kenaikan harga komoditas energi dan agro dapat membantu menopang kinerja ekspor Indonesia dalam jangka pendek. Tapi volatilitas komoditas logam dan sektor industri, tetap perlu diantisipasi, terutama jika perlambatan ekonomi global terjadi lebih dalam,” kata Rini menutup keterangannya.

