WASHINGTON. Lonjakan harga energi dan logam industri memunculkan alarm baru bagi perekonomian global, seiring eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan tajam harga minyak dan aluminium.
Harga minyak dunia memimpin penguatan. Pada Senin (30/3), harga minyak Brent melonjak hingga 3,7% ke level US$ 116,75 per barel dan berada di jalur kenaikan bulanan tertinggi sepanjang sejarah. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) kembali menembus level psikologis US$ 100 per barel.
Kenaikan harga minyak dipicu meluasnya konflik setelah militan Houthi yang didukung Iran meluncurkan serangan rudal ke Israel, disusul penambahan pasukan Amerika Serikat (AS) di kawasan.
Pasar juga kian gelisah setelah Iran membatasi arus kapal di Selat Hormuz. Meski belum sepenuhnya ditutup, pembatasan tersebut mendorong premi risiko dan memperketat pasokan jangka pendek.
Sepanjang Maret 2026, harga Brent tercatat telah melonjak sekitar 60%. Lonjakan ini dinilai bukan semata akibat gangguan pasokan fisik, melainkan lebih didorong oleh risiko distribusi.
Struktur pasar turut menunjukkan tekanan jangka pendek, tercermin dari kondisi backwardation yang tajam dengan selisih harga kontrak mencapai lebih dari US$ 7 per barel. Backwardation adalah kondisi ketika harga spot lebih tinggi dibanding harga berjangka.
Analis menilai volatilitas akan tetap tinggi selama konflik belum merembet hingga menimbulkan kerusakan pada infrastruktur utama di kawasan Teluk. Macquarie Group memperkirakan harga minyak bisa menembus US$ 200 per barel apabila konflik berlanjut dan Selat Hormuz ditutup.
Di saat bersamaan, pasar logam industri ikut terguncang. Harga aluminium di London Metal Exchange (LME) melonjak hingga 6% ke level US$ 3.492 per ton, menyusul serangan terhadap fasilitas produksi di Timur Tengah.
Tekanan terutama datang dari sisi pasokan. Emirates Global Aluminium PJSC melaporkan kerusakan signifikan pada fasilitasnya di Abu Dhabi, sementara Aluminium Bahrain masih menghitung dampak serangan di pabriknya.
Gangguan tersebut meningkatkan risiko pengetatan pasokan global, mengingat Timur Tengah merupakan salah satu pemasok utama aluminium dunia.
Reli harga aluminium mempertegas dampak lanjutan konflik terhadap sektor manufaktur global. Selain produksi yang terganggu, distribusi bahan baku dan logam jadi juga terhambat, memperpanjang tekanan yang sebelumnya sudah muncul sejak konflik memanas.

