Dunia menghadapi kekhawatiran meningkatnya risiko resesi global seiring lonjakan harga energi yang dipicu konflik di Timur Tengah. Sejumlah tokoh dan lembaga ekonomi memperingatkan bahwa kenaikan harga minyak yang berkelanjutan dapat menekan pertumbuhan ekonomi di berbagai negara.
Kepala eksekutif BlackRock, Larry Fink, menilai kenaikan harga minyak berpotensi membawa ekonomi global ke resesi yang berat. Ia menyebut dampaknya akan sangat besar apabila harga minyak mentah naik hingga 150 dolar AS per barel.
“Jika Iran tetap menjadi ancaman dan harga minyak tetap tinggi, konsekuensinya akan sangat signifikan,” ujar Fink.
Menurut Fink, harga energi berpeluang bertahan tinggi dalam jangka panjang apabila konflik tidak segera mereda. Ia juga menyampaikan kemungkinan harga minyak bertahan di atas 100 dolar AS, bahkan mendekati 150 dolar, selama bertahun-tahun. Kondisi tersebut dinilai dapat memicu resesi global yang tajam dan berkepanjangan.
Di sisi lain, Morgan Stanley memproyeksikan Inggris berpotensi mengalami penurunan ekonomi serius sebelum awal 2027. Ekonom lembaga tersebut menilai kenaikan harga energi dapat mendorong Bank of England kembali menaikkan suku bunga, kebijakan yang berisiko memperlambat pertumbuhan hingga memasuki fase kontraksi.
Sejumlah ekonom lain turut menyampaikan peringatan serupa. Resesi di Inggris pada paruh kedua 2026 disebut menjadi kemungkinan nyata apabila biaya energi tetap tinggi.
Lonjakan harga energi juga dikaitkan dengan gangguan distribusi minyak dan gas melalui Selat Hormuz, jalur penting bagi pasokan energi global.

