Kenaikan harga serta ancaman krisis energi dan pangan disebut menjadi dampak nyata dari memanasnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Situasi ini membuat banyak keluarga perlu lebih cermat menjaga kondisi finansial. Di tengah ketidakpastian tersebut, memahami strategi investasi yang menguntungkan sekaligus aman dinilai penting agar dana keluarga tetap terlindungi dari risiko tak terduga.
Career & Financial Coach Atu Kusno menekankan bahwa investasi tidak semata mengejar imbal hasil, tetapi juga perlu ditopang kondisi keuangan yang sehat. Menurutnya, kesiapan arus kas, dana darurat, dan perlindungan seperti asuransi menjadi fondasi awal sebelum mulai berinvestasi.
Berikut lima langkah yang disarankan Atu bagi ibu rumah tangga agar dapat berinvestasi dengan lebih aman di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu.
1. Pastikan arus kas stabil
Atu menyarankan investasi dilakukan ketika arus kas berada dalam kondisi sehat, yaitu pendapatan rutin lebih besar daripada pengeluaran. Selain itu, ia menilai penting adanya proteksi seperti dana darurat dan asuransi agar dana investasi tidak terpaksa digunakan ketika terjadi kondisi yang tidak diinginkan.
2. Kenali profil risiko sebelum memilih instrumen
Setiap orang memiliki toleransi risiko yang berbeda, mulai dari kategori risiko rendah, menengah, hingga tinggi. Atu mengingatkan, masih banyak orang tergoda potensi hasil tanpa memahami risiko yang menyertai produk investasi. Ketika terjadi kerugian, kondisi ini dapat memicu kepanikan dan mendorong keputusan emosional yang justru memperburuk keadaan.
3. Tentukan tujuan investasi
Investasi perlu memiliki tujuan yang jelas, termasuk jangka waktunya. Atu memberi contoh kebutuhan biaya pendidikan anak dalam beberapa tahun ke depan. Dengan tujuan yang terukur, dana dapat dialokasikan pada produk investasi yang diharapkan mampu mencapai nilai yang dibutuhkan pada waktu tertentu dengan rasa aman.
4. Alokasikan dana secara rutin
Di tengah ketidakpastian, prinsip cash is king tetap dianggap penting, namun tidak berarti investasi harus dihentikan. Atu menyarankan alokasi dana investasi dilakukan secara rutin sesuai kemampuan. Ia menyebut ada referensi yang menyarankan maksimal 20% dari pendapatan per bulan, sementara referensi lain menyebut hingga 30%. Namun, besaran tersebut bersifat situasional dan bergantung pada kondisi keuangan masing-masing.
5. Pilih instrumen yang minim risiko
Bagi ibu rumah tangga yang baru pertama kali berinvestasi, Atu menilai instrumen yang relatif stabil dapat menjadi pilihan. Ia menyebut produk yang mendapat perlindungan pemerintah seperti deposito dan obligasi negara sebagai opsi untuk risiko minimal. Selain itu, mata uang asing (misalnya dolar AS) dan emas batangan juga bisa dipertimbangkan.
Atu juga mengingatkan agar keputusan investasi tidak diambil tanpa literasi yang memadai. Jika belum memahami suatu produk, ia menyarankan untuk mempelajarinya terlebih dahulu, meminta pendapat orang yang lebih berpengalaman, atau berkonsultasi dengan perencana keuangan.

