Pasar energi global memasuki 2026 dengan prospek yang tetap bergejolak. Pergeseran geopolitik, perlambatan ekonomi dunia, hingga perubahan arah investasi diperkirakan membuat pergerakan energi dan komoditas kembali volatil. Ketua sekaligus Kepala Analis The Edge, Simon Flowers, merangkum lima tema utama yang dinilai akan membentuk lanskap energi global sepanjang tahun ini.
Flowers menilai volatilitas pada 2026 tidak hanya ditentukan oleh faktor pasokan dan permintaan, tetapi juga oleh eskalasi politik global yang semakin sulit dipisahkan dari dinamika pasar. Ia menekankan bahwa pengaruh geopolitik terhadap pasar energi dan sumber daya alam kian mendekati besarnya pengaruh faktor fundamental.
1. Geopolitik tetap menjadi sumber guncangan
Menurut Flowers, ketidakpastian geopolitik masih akan menjadi pemicu utama gejolak. Perang di Ukraina yang belum menunjukkan jalan damai, penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, serta sikap Amerika Serikat terhadap Iran dan Greenland disebut sebagai bagian dari rangkaian peristiwa yang mempertegas fragmentasi global. Perdagangan dunia dinilai semakin terbelah ke dalam blok yang dipimpin Amerika Serikat dan China.
Situasi ini diperkirakan semakin sensitif menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat pada November 2026, yang dinilai dapat berdampak tidak hanya pada politik, tetapi juga ekonomi dan komoditas global.
Dari sisi ekonomi, Flowers memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global melambat menjadi 2,5 persen pada 2026, turun dari 2,8 persen pada tahun sebelumnya, seiring dampak tarif perdagangan yang mulai terasa. Namun, ia mencatat pemangkasan suku bunga oleh The Fed membuka kemungkinan bahwa 2026 dapat menjadi titik terendah dari siklus ekonomi, sementara pelemahan dolar AS berpotensi menjadi penopang sementara bagi harga komoditas.
2. Minyak dan gas memasuki era pasokan melimpah
Di pasar minyak, Flowers menilai strategi OPEC+ untuk menekan pasokan non-OPEC melalui penurunan harga mulai menunjukkan hasil. Harga Brent diperkirakan rata-rata berada di level USD59 per barel pada 2026, sekitar USD10 lebih rendah dibanding tahun sebelumnya.
Ia melihat pasar minyak global dalam kondisi kelebihan pasokan. Pertumbuhan cairan global diperkirakan mencapai 2,5 juta barel per hari, jauh melampaui pertumbuhan permintaan yang diperkirakan hanya 0,7 juta barel per hari, bahkan sebelum tambahan volume dari Venezuela masuk ke pasar.
Sementara itu, pasar gas dan LNG disebut memasuki fase penurunan yang panjang. Tambahan pasokan dari Amerika Serikat dan Qatar terus mengalir, sehingga harga LNG di Eropa dan Jepang—yang telah turun sekitar dua pertiga dari puncak 2022—berpotensi melemah lebih jauh. Flowers juga mencatat harga gas Eropa (TTF) sempat turun di bawah USD10 per mmbtu pada awal Januari meski musim dingin masih berlangsung.
Di sisi lain, meningkatnya permintaan gas Amerika Serikat untuk ekspor dan konsumsi domestik mulai menekan harga Henry Hub. Flowers menilai prospek margin yang lebih rendah bagi produsen LNG AS kini semakin nyata.
3. Logam dan listrik menghadapi tekanan politik baru
Untuk sektor logam, Flowers menilai tembaga kembali menjadi komoditas yang menonjol. Permintaan dari elektrifikasi dan pusat data terus meningkat, sementara gangguan pasokan dinilai membuat harga tetap terjaga.
Adapun harga listrik disebut semakin menjadi isu politik. Di Eropa, konsumen menghadapi harga listrik tertinggi di dunia dalam empat tahun terakhir, terutama dipicu mahalnya gas. Flowers memperkirakan penurunan harga gas dapat memberi ruang napas bagi ekonomi Eropa pada 2026.
Amerika Serikat juga menghadapi tren kenaikan biaya listrik. Pada 2025, sebanyak 39 dari 50 negara bagian mengalami kenaikan riil tarif listrik rumah tangga. Flowers menyebut harga listrik grosir dan ritel cenderung bergerak naik, dipengaruhi oleh kebutuhan investasi untuk AI dan pusat data, cuaca ekstrem, serta mahalnya pembangunan infrastruktur.
Ia juga mengingatkan bahwa ambisi Amerika Serikat memenangkan perlombaan AI berisiko memicu kelebihan kapasitas pembangkit listrik di masa depan apabila efisiensi chip meningkat terlalu cepat.
4. Investasi energi diperkirakan melambat
Ketegangan geopolitik dan pelemahan harga komoditas dalam jangka pendek diperkirakan menahan laju investasi energi global. Setelah mencapai rekor USD1,63 triliun pada tahun lalu, investasi energi dan sumber daya alam diproyeksikan turun menjadi USD1,58 triliun pada 2026.
Meski demikian, Flowers menilai perlambatan tersebut bersifat sementara mengingat kebutuhan pasokan jangka panjang dan tuntutan dekarbonisasi. Ia juga memperkirakan investasi energi terbarukan stagnan secara riil hingga 2030, terutama karena China mulai mengurangi insentif untuk surya dan angin.
Di sektor migas hulu, belanja juga diperkirakan menurun, namun peluang ekspansi dinilai dapat kembali terbuka apabila permintaan tetap kuat hingga 2030-an.
5. Dekarbonisasi: titik terang dari China
Meski transisi energi disebut bergerak lebih pragmatis, Flowers melihat sejumlah sinyal positif. Kapasitas surya dan angin global diperkirakan mencapai 4.000 gigawatt pada 2026, melampaui kapasitas pembangkit batu bara dan gas untuk pertama kalinya.
Penjualan kendaraan listrik global diproyeksikan meningkat menjadi 24 juta unit pada 2026, dengan China tetap menjadi motor utama. Flowers juga mencatat teknologi baterai sodium-ion dari China mulai disiapkan untuk pasar Eropa.
Untuk hidrogen, Flowers menyoroti dominasi China. Ia mencatat lebih dari 70 persen keputusan investasi final hidrogen hijau pada tahun lalu berasal dari China, sekaligus menggarisbawahi potensi hidrogen murah dari China yang dapat menekan produksi hidrogen hijau di Eropa.
Secara keseluruhan, Flowers menilai 2026 tidak akan menjadi tahun yang tenang bagi sektor energi. Geopolitik, keterjangkauan energi, dan transisi rendah karbon diperkirakan saling tarik-menarik, menciptakan pasar yang rapuh namun tetap menyimpan peluang.

