Pasar global diperkirakan bergerak lebih aktif sepanjang pekan ini seiring menumpuknya sejumlah faktor yang menjadi perhatian investor, mulai dari geopolitik hingga rilis data ekonomi penting. Pelaku pasar menilai kombinasi isu-isu tersebut berpotensi meningkatkan volatilitas pada aset berisiko maupun instrumen safe haven.
Fokus utama masih tertuju pada konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran yang kembali menemui kebuntuan. Presiden AS Donald Trump disebut menolak proposal terbaru dari Iran terkait perdamaian dan program nuklir. Situasi ini membuat risiko di Selat Hormuz dinilai tetap tinggi, sehingga harga minyak serta aset safe haven berpotensi kembali bergejolak.
Dari sisi data ekonomi, perhatian pasar mengarah pada rilis inflasi AS (CPI). Data ini dinantikan untuk melihat apakah kenaikan harga minyak akibat konflik mulai berdampak pada perekonomian Amerika. Jika inflasi kembali meningkat, peluang penurunan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dapat semakin kecil—kondisi yang umumnya mendukung penguatan dolar AS dan memberi tekanan pada emas maupun saham.
Di saat yang sama, pelaku pasar juga mencermati agenda pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping. Pertemuan tersebut diperkirakan membahas perang dagang, tarif, dan hubungan ekonomi kedua negara. Pasar menilai hasil pertemuan ini penting karena dapat memengaruhi sentimen global, terutama pada sektor teknologi dan manufaktur.
Isu lain yang ikut disorot adalah berakhirnya masa jabatan Ketua The Fed Jerome Powell, yang disebut akan digantikan oleh Kevin Warsh. Pergantian ini dinilai berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga AS ke depan, sehingga menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan oleh investor.
Dari sisi korporasi, perhatian pasar juga tertuju pada rencana IPO perusahaan chip AI Cerebras. Rencana tersebut dipandang sebagai sinyal bahwa tema kecerdasan buatan (AI) masih menjadi pusat perhatian investor global.
Sejalan dengan berbagai faktor tersebut, beberapa aset utama juga menjadi pantauan pelaku pasar berdasarkan analisis teknikal dan fundamental. Pada minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) timeframe H1, tren dinilai bullish dengan harga bertahan di atas dynamic support Moving Average (MA) 21 dan 50. Secara teknikal, WTI berpotensi menguji resistance di 99.80 dan target berikutnya 101.33, sementara indikator stochastic mengarah naik menuju area overbought. Dari sisi fundamental, prospek WTI ditopang optimisme permintaan energi global, pasokan yang terbatas, kebijakan pengendalian produksi OPEC+, serta faktor geopolitik yang menjaga sentimen terhadap harga energi.
Pada pasangan USD/JPY timeframe harian, tren juga dinilai bullish. Secara teknikal, terbentuk pola double bottom yang dipandang sebagai sinyal pembalikan ke atas, dengan swing low pada area support 155.900 dan 155.018. Stochastic bergerak naik menuju area overbought, mengindikasikan momentum bullish masih kuat selama harga bertahan di atas support utama. Secara fundamental, potensi penguatan USD/JPY dikaitkan dengan perbedaan kebijakan moneter, di mana The Fed cenderung mempertahankan suku bunga tinggi sementara Bank of Japan (BOJ) dinilai masih longgar. Kondisi ekonomi AS yang relatif solid serta imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tinggi turut menopang dolar, sementara yen dinilai masih tertekan selama tidak ada intervensi besar atau perubahan signifikan dari BOJ.
Sementara itu, EUR/USD timeframe harian dinilai bearish setelah gagal menembus resistance 1.17864. Harga disebut berada dalam fase secondary trend dan berpotensi terkoreksi menuju support 1.17219, dengan peluang pelemahan lanjutan ke 1.16752 jika support ditembus. Dari sisi fundamental, tekanan pada EUR/USD dikaitkan dengan menguatnya dolar AS di tengah kehati-hatian pasar terhadap arah kebijakan moneter global, serta ekspektasi The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama apabila data ekonomi AS tetap kuat. Pasar juga mencermati potensi perlambatan ekonomi Eropa dan sikap European Central Bank (ECB) yang dinilai lebih berhati-hati, sementara permintaan terhadap aset safe haven dapat ikut menopang dolar saat pasar berada dalam kondisi risk-off.
Pada indeks Dow Jones Industrial Average timeframe H4, tren dinilai bullish dengan tekanan penurunan pada timeframe daily sebelumnya disebut mulai tertahan. Indeks bertahan di atas dynamic support MA 21 dan 50, membuka peluang penguatan menuju resistance 50140 dan target lanjutan 50704 jika momentum tetap terjaga. Dari sisi fundamental, sentimen positif didukung pandangan bahwa ekonomi AS relatif stabil, terutama dari tenaga kerja, konsumsi, dan kinerja perusahaan besar. Selain itu, ekspektasi The Fed lebih berhati-hati dalam menaikkan suku bunga—jika tekanan inflasi mereda—dapat meningkatkan minat pada aset berisiko. Sentimen risk-on global juga dinilai berpotensi membantu penguatan indeks ketika kekhawatiran geopolitik dan perlambatan ekonomi mereda.
Dengan rangkaian isu geopolitik, rilis data inflasi, agenda hubungan AS–China, perubahan kepemimpinan bank sentral, serta sentimen pada saham teknologi, pelaku pasar memperkirakan pekan ini akan diwarnai pergerakan yang lebih fluktuatif di berbagai instrumen.