Dalam beberapa waktu terakhir, film horor Indonesia kerap menonjolkan latar tempat sebagai elemen penting yang membentuk suasana cerita. Selain naskah, kerja tim produksi, serta peran sutradara dan produser, latar tempat disebut sebagai aspek pendukung yang tak terpisahkan dari unsur intrinsik film.
Peran latar ini terlihat pada dua film horor yang sama-sama rilis pada 2022 dan mendapat perhatian luas, yakni KKN di Desa Penari dan Pengabdi Setan 2. Keduanya disebut mencatat penjualan tiket yang tinggi, sekaligus memperlihatkan bagaimana tempat dapat menjadi pusat konflik dan sumber ketegangan.
Dalam KKN di Desa Penari, cerita berangkat dari kisah para mahasiswa yang menjalani KKN di sebuah desa yang disamarkan dalam kisah nyata yang sebelumnya beredar melalui thread Twitter akun @simpleman. Di versi film, desa digambarkan sebagai ruang yang “aneh” dengan berbagai tabu dan larangan bagi pendatang. Bahkan, tradisi di desa tersebut ditampilkan berbeda dari kebiasaan para tokoh mahasiswa.
Penekanan pada latar sudah muncul sejak judul melalui kata “desa”, yang dipandang memiliki kontras tersendiri dengan “kota”. Desa itu juga dibuat spesifik lewat sebutan “Desa Penari”. Selain desa, konflik penting bertumpu pada latar lain yang dominan, yaitu “hutan larangan”. Pilihan diksi “larangan” mengarahkan penonton untuk memahami adanya aturan yang tidak boleh dilanggar, termasuk tempat yang dianggap keramat atau memiliki kekecualian tertentu. Dalam narasi, para tokoh dilarang mendatangi lokasi-lokasi yang diyakini menyimpan unsur mistis, namun konflik berkembang ketika larangan itu dilanggar dan tindakan tabu dilakukan di tempat tersebut.
Dominasi latar desa dan hutan dinilai membentuk kesatuan alur dan suasana yang menguatkan tema horor. Gambaran ruang yang jauh dari modernisasi, sepi, dan berjarak dari kehidupan sehari-hari penonton turut memengaruhi efek ketakutan yang dibangun film.
Sementara itu, Pengabdi Setan 2 menampilkan pendekatan berbeda melalui pemilihan lokasi berupa rumah susun (rusun). Latar rusun menjadi pusat narasi ketika para tokoh menghadapi konflik mistis di ruang yang sempit dan bertingkat, yang kemudian memunculkan efek takut bagi penonton. Perbedaan utama dari film pertama disebut terletak pada lokasi syuting yang baru dan mendapat sorotan kuat dalam cerita.
Pemilihan rusun juga dikaitkan dengan tempat yang dapat dirujuk di dunia nyata dan telah lebih dulu dilekatkan citra “seram” oleh sebagian masyarakat. Salah satu contoh yang disebut adalah rusun di belakang Pasar Sumber Arta, Bintara Jaya, Bekasi Barat, yang sempat viral di media sosial. Rusun tersebut disebut terbengkalai selama 15 tahun dan menimbulkan kesan angker bagi warga yang melintas.
Selain rusun, pembahasan juga menyinggung lokasi lain yang pernah dilekatkan dengan wacana seram setelah digunakan sebagai latar film, seperti rumah tua Pangalengan di kawasan PTPN VIII, Kampung Kertamanah, Desa Margamuksi, Pangalengan, Bandung, yang berada di tengah perkebunan. Dalam konteks ini, latar tempat tidak hanya dipilih karena dianggap mendukung suasana, tetapi juga dapat memengaruhi cara publik memaknai sebuah lokasi—baik memperkuat stigma angker yang sudah ada maupun membentuk kesan baru.
Fenomena serupa disebut pernah terjadi pada sejumlah film lain yang memanfaatkan lokasi tertentu, seperti Lawang Sewu untuk film Dendam Kuntilanak, Benteng Pendem untuk film Kuntilanak 3, dan Pulau Satonda untuk film Jailangkung.
Secara umum, latar tempat dipandang berharga dalam film horor Indonesia karena kedekatannya dengan pengalaman masyarakat dan kemampuannya dirujuk secara nyata. Tempat yang sudah dikenal angker dapat terasa semakin “seram” setelah menjadi bagian dari narasi film, sementara lokasi yang semula dianggap biasa dapat berubah citranya setelah dikaitkan dengan cerita horor.
Pembahasan ini juga menempatkan wacana “seram” sebagai salah satu formulasi penting dalam genre horor, yang turut didukung oleh latar belakang kepercayaan masyarakat terhadap dunia supranatural, takhayul, dan cerita mistis. Dalam kajian Fitri (2022) tentang daya tarik minat menonton KKN di Desa Penari, disebutkan bahwa film horor kerap menghadirkan unsur yang tidak sesuai logika atau tidak masuk akal, namun tetap diminati. Di sisi lain, penggunaan tempat dalam film horor dinilai membuka peluang pengembangan lintas media, seiring meluasnya pembicaraan publik mengenai lokasi-lokasi yang tampil dalam film.

